RSS

Selasa, 09 Oktober 2012

PBAC


Rangkuman Analisis Artikel dan Wawancara

Makalah ini ditulis untuk memenuhi tugas Pengembangan Bahan Ajar Cetak









DISUSUN OLEH:
Ayu Sityamurti (1215101945)
Azzanudin Fakhrezi (1215086081)
Ita Rosfita (1215100010)
Mochammad Zahrias (1215076069)

Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Jakarta

2012


Hasil Analisis 5 Artikel



Judul
Penulis
Sumber
Artikel 1
Menulis Buku Pelajaran?
Sholahudin
Http://Sholahuddin.edublogs.org/2010/05/01/menulis-buku-pelajaran
Artikel 2
Pembuatan Buku Teks Pelajaran
Agus Wiryanto
http://aguswaryanto.wordpress/pembuatan-buku-teks-pelajaran/2009/06/21
Artikel 3
Teknik Penulisan Buku Ajar PAI
Hendrayadi, S.Pd
Artikel 4
Pedoman Menulis Buku Ajar
Juliman Harefa
http://blog.uki.ac.id.julimanh/2011/10/21/pedoman-menulis-buku-ajar/
Artikel 5
Teknik Penyunan Text Buku Ajar
Drs.Kustiono, M.Pd
Http://www.prasko.com/2011/11/teknik-penyusunan-text-buku-ajar.html


Setelah membaca 5 artikel diatas, dapat disimpulkan:

Buku pelajaran adalah kelompok karya tulis ilmiah, tetapi dibuatnya bukan berdasarkan hasil penelitian, tetapi materi pelajaran atau mata kuliah suatu ilmu pengetahuan tertentu sesuai kebutuhan dalam pembelajaran bidang studi tertentu. Buku pelajaran menyediakan materi yang tersusun untuk keperluan pembelajaran siswa. Peristiwa pembelajaran terjadi dalam kegiatan interaksi dan komunikasi antara guru yang mengajar dengan siswa yang belajar di ruang kelas. Dalam kegiatan tersebut digunakan bahan untuk dipelajari oleh siswa, yaitu diindra, dipikirkan, dirasakan, diimajinasikan, dan dilakukan. Buku pelajaran menyediakan bahan yang sudah dipersiapkan, dipilih, dan ditentukan cakupan dan urutannya sehingga memberikan kemudahan bagi siswa. Mengingat penggunaannya dalam kegiatan belajar, buku pelajaran perlu disusun dengan cara yang dapat memenuhi keperluan belajar tersebut. Isinya benar dari segi keilmuan, disusun secara sistematis, mengandung informasi yang kaya, lengkap, dan relevan dengan tujuan pelajaran tersebut.

Dalam menyusun buku teks pelajaran harus memperhatikan beberapa prinsip, yaitu :
1.   Prinsip relevansi
Artinya keterkaitan, materi yang ditulis hendaknya relevan dengan pencapaian standar kompetensi yang ingin dicapai.
2.   Prinsip konsistensi
Artinya keajegan, jika kompetensi dasar yang harus dikuasai empat macam maka bahasan yang ada pada buku juga harus meliputi empat macam.
3.   Prinsip kecukupan
Artinya materi yang diajarkan hendaknya mencukupi dalam membantu pemelajar mengusai kompetensi yang akan diajarkan, materi tidak boleh terlalu sedikit dan tidak boleh terlalu banyak, jika terlalu sedikit akan kurang membantu mencapai kompetensi standar sebaliknya jika terlalu banyak akan membuang buang waktu dan tenaga yang tidak perlu untuk mempelajarinya.

Sedangkan Rusmin Tumanggor berpendapat ada tiga prinsip penulisan buku teks pelajaran, yaitu :
1.   Keluasdalaman Tulisan
Keluasan dan kedalaman tulisan dasarkan pada standar Isi yang telah ditetapkan oleh negara secara nasional (Permendiknas No. 22 Tahun 2006).
2.   Isi Tulisan yang meliputi :
a.    Konsep-konsep serta pengertian yang terdapat pada mata pelajaran yang ditulis.
b.   Definisi para ahli terhadap konsep-konsep pada butir a tersebut.
c.    Teori para ahli tentang konsep-konsep pada butir a tersebut.
d.   Komponen-konpenen (aspek-aspek) pendukung setiap suatu konsep.
e.    Sejarah pertumbuhan dan perkembangan mata pelajaran tersebut.
f.     Tokoh-tokoh yang berjasa sebagai pendiri, pengembang serta penentang ilmu tersebut .
g.    Tujuan dan Kegunaan (manfaat) ilmu yang ditulis tersebut.
h.   Kata-kata kunci pada semua deskripsi tulisan tersebut.
i.      Menyajikan sari nilai-nilai dan norma penting yang terkandung dalam tulisan mata pelajaran tersebut.
j.      Tampilkan juga isi tulisan tersebut tentang ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
k.    Sebaiknya tampilkan gambar, lukisan atau skema pada bagian-bagian penting dari isi tulisan itu.
l.      Sebaiknya cantumkan jika ada data hasil penelitian para ahli berupa narasi, tabel, grafik, diagram, dsb.
m. Muat juga respon penulis atas isu-isu terbaru tentang atau terkait materi pelajaran tersebut.
n.   Buat pertanyaan-pertanyaan penting dari setiap satuan-satuan besar uraian tersebut untuk didiskusikan dan bahan penugasan siswa terkait.
o.   Jika memungkinkan buat juga catatan kaki (footnote) atas sesuatu deskripsi atau bahan kutipan yang memerlukannya.
3.   Pengelompokan Tulisan
Pengelempokan berupa pengorganisasian atau ketegorisasi isi tulisan.
a.    Bab-bab atau bahagian Pendahuluan: Bisa terdiri dari anak-anak bab.
b.   Bab-bab atau bahagian Batang Tubuh: Bisa terdiri dari beberapa bab atau bahagian serta masing-masing memiliki anak-anak bab atau bahagian.
c.    Bab atau bahagian Penutup: Kesimpulan dan rekomendasi yang dipandang relevan.
d.   Daftar bacaan sumber rujukan: Berupa buku, jurnal, majalah, laporan penelitian, dsb.
e.    Indeks: Konsep-konsep penting yang tertuang dalam tulisan sesuai halaman.
f.     Daftar lampiran: Peta, Gambar, Daftar Riwayat Hidup Penulis/Photo, dll.
4.   Bahasa Sederhana
a.    Bahasa sesuaikan dengan umur anak dan ilmiah populer.
b.   Konsep-konsep ditampilkan dengan penjelasan operasional yang mudah dimengerti.
c.    Etika bahasa: halus dan menyentuh.
d.   Pedomani tekhnik penulisan buku: Huruf, tanda baca, margin, paragraf, dsb.
5.   Intersubjektivitas
a.    Ide-ide awal penulis sebelum menulis, diskusikan lebih dahulu dengan seorang ahli atau pakar yang relevan.
b.   Sesudah ditulis beri kesempatan dikoreksi seorang ahli yang relevan tersebut.
c.    Draft tulisan bawa ke diskusi kelompok teman sejawat atau dari pelbagai pihak terkait yang serius.
d.   Minta dibaca oleh salah seorang objek sasaran (user).
e.    Pertanyaan diujicobakan ke kelompok objek sasaran.
f.     Perbaiki sesuai masukan-masukan.
6.   Rekomendasi
a.    Minta rekomendasi salah seorang atau sejumlah ahli.
b.   Mintakan legalitas lembaga terkait.
7.   Penerbitan
a.    Pantau pemasaran.
b.   Jika tidak laris adakan revisi koreksi.
c.    Jika laris bagi-bagi profit untuk:
1). Pengembangan modal penulisan topik lainnya.
2). Pemenuhan kebutuhan pokok.
3). Harta agama: Zakat, Infaq, Waqaf, Sedekah, dll .
4). Revisi sesuai permasalahan fenomena yang aktual di lapangan.

Dalam penulisan buku teks Pelajaran diperlukkan beberapa ketentuan agar buku yang disusun memberikan informasi yang utuh, adapun ketentuannya adalah :

1.   Persyaratan yang berkaitan dengan isi
A.      Memuat sekurang kurangya materi minimal yang harus dikuasai peserta didik/diklat
B.      Relevan dengan tujuan dan sesuai dengan kemampuan yang akan dicapai
C.      Sesuai dengan ilmu pengetahuan yang bersangkutan
D.     Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
E.      Sesuai dengan jenjang dan sasararan
F.      Isi dan bahan mengacu pengembangan konsep, prinsip, teori
G.      Tidak mengandung muatan politis maupun hal yang berbau sara
2.      Persyaratan  penyajian
A.      Uraian teratur sesuai dengan urutan setiap bab
B.      Ualing memperkuat dengan bahan lain dan kontekstual
C.      Menarik minat dan perhatian sasaran pembaca
D.     Menantang dan merangsang untuk dibaca dan dipelajari
E.      Mengacu pada aspek koginitif, afektif dan psikomotor
F.      Penyajian yang menggunakan bahasan ilmiah dan formal
3.      Persyaratan yang berkaitan dengan bahasa
A.      Menggunakan bahasa Indonesia yang benar
B.      Menggunakan kalimat yang sesuai dengan kematangan dan perkembangan  sasaran pembaca
C.      Menggunakan istilah, kosakata, indeks, symbol yang mempermudah pemahaman
D.     Menggunakan kata kata terjemahan yang dibakukan
4.      Persyaratan yang berkaitan dengan Ilustrasi
A.      Relevan degan konsep, prinsip yang disajikan.
B.      Tidak mengunakan kesinambungan antar kalimat. Antar bagian dan antar paragraph.
C.      Merupakan bagian terpadu dari bahan ajar
D.     Jelas, baik dan merupakan hal-hal esensial yang membantu memperjelas materi

Langkah-langkah Penyusunan Buku Teks Pelajaran
Langkah-langkah ini dimaksudkan untuk memberikan bimbingan menulis, bukan hanya memberikan pengetahuan tentang cara menulis. Adapun langkah-langkah tersebut adalah:

1. Merencanakan pendekatan siste
m
Pendekatan sistem memiliki enam komponen besar, yaitu: 1) analisis, 2) desain, 3) pengembangan, 4) uji coba dan revisi, 5) implementasi, dan 6) evaluasi sumatif. Hal ini perlu dilakukan untuk memperoleh hasil yang maksimal. Adapun hubungan keenam komponen di atas   dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

2. Melakukan analisis kebutuhan
ini perlu dilakukan untuk meyakinkan diri penulis bahwa buku yang akan ditulis sangat dibutuhkan oleh peserta didik. Dalam hal ini perlu menganalisis tingkat perkembangan psikologi peserta didik, kondisi sosio-kulutral, minat dan motivasi siswa, biaya, dll. Khusus di Sumatera Barat, perlu memperhatikan budaya Minangkabau sehingga penulisan buku tersebut dapat mengintegrasikan budaya Minangkabau yang mendukung materi, seperti pepatah, kehidupan  para tokoh Minang yang berprestasi, dsb.

3. Mendiskripsikan kelompok sasaran
Sasaran buku tersebut tentu tingkat siswa, apakah di SD, SMP, atau setingkat SMA. Hanya sajaperlu mendalami karakteristik masing-masing tingkatan tersebut, seperti analisis kebutuhan di atas. Hanya saja, langkah ketiga ini merumuskan lebih jelas lagi tentang sasaran tersebut.

4. Melakukan kerja sama dengan ahli bidang studi
Penulisan buku sebaiknya berdiskusi dengan orang lain untuk bertanya atau bertukar pikiran,   terutama dari aspek bidang studi. Orang lain yang dimaksud sebaiknya ahli bidang studi yang dapat dijadikan sebagai narasumber yang bertanggung jawab. Khusus untuk PAI, karena ada lima aspek, perlu berdiskusikan dengan ahli tafsir-hadis, ahli fiqh, ahli tauhid (ushuluddin), ahli           sejarah, dan ahli pendidikan Islam secara umum.


5. Menuliskan kompetensi yang dapat diukur
            Perlu merumuskan kompetensi yang akan dicapai oleh peserta didik dengan memperhatikanwaktu yang dibutuhkan.

6. Melakukan analisis piramida
            Analisis piramida merupakan teknik yang bermanfaat untuk mengidentifikasi seluruh kompetensi dan sub-kompetensi yang diperlukan. Selainjutnya menyusun satu sama lain secara logis sehingga mudah dipelajari. Cara yang terbaik adalah dengan memulai dari tujuan (goal)          kemudian berjalan mundur untuk mengetahui kompetensi-kompetensi yang diperlukan.

7. Mengidentifikasi jenis belajar, pemilihan metode dan media, dan peta belajar
            Langkah ketujuh ini dilakukan dengan memperhatikan jenis materi dan tingkat sasaran peserta didik. Perlu pula mengidentifikasi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.

8. Menentukan struktur pelajaran dan desain pertanyaan
            Struktur pelajaran harus tergambar dalam profil tulisan pada setiap Bab/tema. Struktur pelajaran ini disusun secara utuh, mulai dari pendahuluan sampai tindak lanjut setelah melakukan tes akhir pokok bahasan.

9. Membuat lay-out halaman
            Lay-out halaman hendaklah memperhatikan:
                        a. Gambar di awal Bab
                        b. Uraian materi standar
                        c. Kegiatan siswa
                        d. Jendela dan Gambar
                        e. Informasi atau rumus-rumus yang penting

10. Melakukan penulisan naskah yang sesungguhnya
            Setelah melakukan sembilan langkah sebelumnya, maka lakukanlah penulisan buku yang sesungguhnya dengan ketekunan dan kesabaran serta niat yang ikhlas.

11. Melakukan evaluasi
            Setelah buku ditulis, sebaiknya dilakukan evaluasi dengan menempuh beberapa tahap, yaitu:
a. Review ahli bidang studi, desain pembelajaran, dan editorial.
b. Uji coba satu-satu atau secara individual kepada siswa yang relatif cerdas, biasa dan kurang dengan memperhatikan responnya.
c. Uji coba kelompok kecil sekitar 20-30 orang dengan mengamati respons mereka tanpa
harus dibimbing.
d. Uji coba lapangan nyata, setelah melakukan revisi dari tahapan sebelumnya
e. Evaluasi sumatif, yaitu untuk menentukan prestasi belajar siswa yang menggunaka
n    buku tersebut.
f. Penutup



Buku harus memiliki 3 bagian utama, yaitu bagian awal isi (cover), bagian isi, dan bagian akhir.
Agar dapat menjadi penulis buku ajar, dapat diawali dengan tahapan-tahapan berikut: membaca dan menelaah Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD); menyusun peta konsep. Peta konsep adalah sistematika pendistribusian materi yang mengacu kepada SKKD, semacam daftar isi; mengumpulkan materi yang relevan dengan SKKD untuk dijabarkan sesuai dengan peta konsep; membaca buku ajar yang telah dinyatakan lolos BSNP agar memperoleh inspirasi dan dapat membuat modifikasi; memahami instrumen penilaian buku ajar yang telah ditetapkan BSNP; mengembangkan materi sesuai dengan peta konsep; merefleksikan koherensi materi dalam satu bab/unit untuk ditemukan kekurangan; minta pertimbangan pihak lain untuk memberi kritikan atau input hingga pada tahap buku siap dicetak.
Dalam membuat sebuah buku pelajaran harus disesuaikan dengan undang-undang yang berlaku, diantaranya syarat penulisan buku teks pelajaran yang telah ditetapkan oleh BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).
Kesesuaian tulisan artikel dengan Peraturan Pemerintah mengenai Buku Teks Pelajaran. Adapun kesesuaian tersebut memuat dalam peraturan pemerintah yaitu:
1. Lampiran Permendiknas No.22 Tahun 2006 pada Bab 1 mengenai standar isi terutama pada poin pertama yang berbunyi :
“kerangka dasar dan struktur kurikulum yang merupakan pedoman dalam penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan”
Kutipan standar isi yang dimaksud pada poin pertama dalam lampiran Permendiknas No.22 Tahun 2006 sangat sesuai dengan apa yang ditulis penulis mengenai pedoman penulisan buku. Ini dapat dilihat pada tulisannya yang berbunyi :
“Kaidah isi buku pelajaran mencakup : (1). Cakupan isi sesuai dengan kurikulum yang berlaku, (2). Urutan sajiannya sesuai dengan waktu yang ditentukan dalam kurikulum, (3). Tingkat kesulitan sesuai dengan tahapan pembelajaran yang ditentukan di kurikulum.”
2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 pasal 8 yang membahas mengenai SNP (Standar Nasional Pendidikan) dan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).
Hal ini terbukti dan dapat dilihat pada tulisan penulis yang menjelaskan 9 langkah untuk dapat menjadi penulis buku ajar. Dalam sub bab tulisan tersebut, penulis banyak memberikan informasi bahwa diantaranya dalam menulis buku agar sesuai dengan apa yang dihendaki oleh BSNP, dimana hal yang harus dilakukan mencakup : membaca dan menelaah SK/KD, menyusun peta konsep, mengumpulkan materi, membaca buku ajar yang telah dinyatakan lolos BSNP, memahami instrumen penilaian buku ajar yang telah ditetapkan BSNP, mengembangkan materi sesuai dengan peta konsep, merefleksikan koherensi materi, Minta pertimbangan dan kritikan pihak lain, dan buku siap dicetak.

Hasil Wawancara Dosen Mengenai Penulisan Buku
A.    Profile Narasumber
Nama Narasumber                           :  Ika Lestari S.Pd, M.Si
Jabatan                                               :  Dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Buku yang Pernah Ditulis                :  Pengembangan Pembelajaran berbasis Internet

B.     Materi Pertanyaan
1.      Apa sajakah langkah-langkah dalam penulisan buku?
2.      Bagaimana menyusun buku agar buku tersebut dapat menarik perhatian pembaca?
3.      Bagaimana kiat-kiat dalam penulisan buku?
4.      Apa sajakah kendala-kendala yang ada dalam menulis buku?

C.    Hasil Wawancara
Dari hasil wawancara, dapat disimpulkan bahwa hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan buku adalah :
Menganalisis dan mengidentifikasi sasaran dan kebutuhan akan pembaca. Yang dilakukan pada tahap pertama ini terbagi atas dua tahap, yaitu pertama dimulai dengan mengidentidikasi sasaran dan yang kedua yakni identifikasi materi. Pada tahap pertama identifikasi ini dimulai dari identifikasi sasaran. Karena buku yang ditulis oleh Ibu Ika adalah buku ajar yang sasarannya diperuntukkan untuk mahasiswa maupun mahasiswi meskipun pada dasarnya buku yang ditulisnya dapat berlaku dan dipelajari secara umum, maka buku yang ditulis beliau tersebut harus dikemas sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Tahap selanjutnya dalam tahap identifikasi ini adalah mengidentifikasi materi apa saja yang akan dibahas dalam buku tersebut. Dalam indentifikasi materi disini, konten atau isi materi dalam buku harus mencakup keseluruhan dari apa yang dibutuhkan oleh sasaran yang dalam hal ini adalah mahasiswa dan atau mahasiswi. Disamping itu, salah satu yang terpenting juga dalam menulis buku tentunya adalah menentukan tujuan dari penulisan buku tersebut mulai dari untuk apa buku ini ditulis, seberapa pentingkah buku ini bagi pembaca, dan sebagainya.
Kemudian langkah selanjutnya adalah dalam mencari sumber-sumber bacaan sebagai referensi penulisan buku. Bahan bacaan yang dapat dijadikan sebagai referensi penulisan buku dapat diambil dari beberapa sumber yang ada, baik itu yang didapatkan dalam bentuk buku, jurnal, maupun istilah yang di dapat di internet, dan sumber tersebut tentunya yang berasal dari sumber yang terpercaya dan dapat dibuktikan kebenarannya. Dalam kaitannya dengan penulisan buku, sumber atau referensi ini juga memiliki beberapa kriteria yang artinya adalah tidak sembarang buku dapat dijadikan sebagai sumber bacaan. Salah satu kriterianya misalkan buku ini harus sesuai dengan konten yang akan ditulis dalam buku, harus berasal dari para ahli atau tokoh yang berkecimpung di bidang tersebut yang berkaitan dengan topic yang ditulis dalam buku tersebut.
Awalnya Ibu Ika juga melakukan mini riset tentang buku-buku sejenis apa saja yang dibahas di dalamnya, apa kelebihan dan kekurangan yang ada di dalam buku tersebut. Setelah melakukan mini riset tersebut, kemudian beliau mulai menyusun buku dengan menambah beberapa konten atau materi yang dianggap bagus dan baik dari buku sejenis yang sudah ia baca. Seperti yang dialami penulis pada umumnya, tentunya ada kendala yang dihadapi oleh Bu Ika dalam hal penyusunan buku hingga tercetaknya buku yang ditulisnya. Adapun kendala yang dirasakan Bu Ika yaitu apabila ada buku referensi yang berasal dari bahasa asing, itu dapat membuat beliau agak kurang jelas dalam memahami makna atau maksud dari isi buku tersebut.
Kemudian adalah menyusun buku yang ditulis tersebut. Dalam tahap menyusun buku perlu diperhatikan mengenai tujuan dari penulisan buku. Hal tersebut perlu diperhatikan secara seksama dengan maksud agar bahasan di dalam buku yang ditulis dan diterbitkan tidak jelas arahnya dan cenderung membuat pembacanya menjadi bingung serta tidak dapat mencerna apa yang dibacanya. Selain daripada itu, yang perlu diperhatikan kemudian adalah mengenai isi atau konten yang akan dibahas dalam buku harus dapat disesuaikan dengan kebutuhan sasaran terkait. Dalam hal penulisan buku, bagian yang tak kalah penting peranannya adalah unsur metodologi atau sistematika penulisan buku yang juga berperan sangat penting dalam menyusun sebuah buku agar buku tertata dengan rapi, tidak berantakan tata letaknya dan secara kondisi nyaman dan enak untuk dibaca oleh pembaca. Karena bagaimanapun juga buku dengan sistematika penulisan baik dan rapi dapat dikategorikan sebagai buku yang baik untuk pembaca. Selanjutnya, yang menjadi tolak ukur dalam penyusunan buku adalah bahasa yang digunakan haruslah menggunakan bahasa Indonesia yang sesuai dengan ejaan yang telah disempurnakan (EYD) agar pembaca dapat memahami maksud dari tiap kata maupun kalimat sehingga pesan yang disampaikan diterima dengan baik. Dengan penggunaan EYD yang baik maka pembaca tidak perlu membuka kamus terlebih dahulu jika terdapat kata yang pembaca kurang mengerti. Artinya, penggunaan ejaan yang tepat sangat membantu pembaca dalam membaca isi atau konten yang ada dalam buku tersebut.
Selanjutnya adalah penyajian isi, agar buku yang ditulis penulis dapat menarik perhatian pembaca maka perlu adanya penambahan tulisan yang menarik, disain yang menarik, kombinasi warna yang sesuai hingga perlu menyajikan soal-soal latihan dalam bentuk kemasan gambar atau ilustrasi. Dalam hal ini, ilustrasi juga memegang peranan yang penting dalam penyusunan sebuah buku, bila dirasa dibutuhkan untuk menambah gambar, tabel, bagan, ataupun diagram maka berikanlah gambar atau ilustrasi tersebut. Tentunya ilustrasi tidak boleh keluar dari materi yang sedang dibahas. Karena pada dasarnya ilustrasi ditujukan untuk memperjelas apa yang telah dijelaskan pada buku terkait dengan harapan pembaca dapat semakin memahami isi buku dengan melihat ilustrasi atau gambar yang disajikan dalam buku  tersebut. Karena bagaimanapun juga pada dasarnya tidak ada orang yang menyukai sepenuhnya textbook atau buku yang hanya sekedar memuat tulisan dan kalimat-kalimat saja di dalamnya.
Faktor terakhir yang perlu diperhatikan dalam hal penulisan buku adalah faktor fisik. Faktor fisik buku disesuaikan dengan sasaran yang akan dituju, misalkan untuk anak Sekolah Dasar biasanya fisik buku akan berukuran besar dengan ukuran tulisan yang juga cukup besar agar lebih jelas terbaca sedangkan untuk kelas yang lebih tinggi lagi tingkat pendidikannya bisa menggunakan ukuran buku yang relatif sedang dengan tulisan yang tidak terlalu besar. Akan tetapi, bila ada yang tidak sesuai dari faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, maka akan dapat mencari alternatifnya, baik itu bisa berupa modifikasi, kompilasi, dan atau berupa susun baru. Selain itu, agar buku lebih marketable dibandingkan dengan buku lain pada umumnya, hendaknya penulis untuk mendesain cover buku dengan disain menarik sebelum masuk ke pihak penerbit. Karena lebih baik penerbit hanya berperan sebagai pembuat layout dan pencetak saja.
Hal terakhir yang perlu diperhatikan adalah sebelum buku dicetak, terlebih dahulu penulis memberikan “dummy” kasar terlebih dahulu kepada pihak penerbit untuk dapat direvisi setelah dikoreksi oleh editor kependidikan (jika dalam jurnal disebut mitra bestari) dan setelah revisi dilakukan maka tahap terakhir buku siap untuk dicetak dan diterbitkan.
            Ibu Ika juga menekankan hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menuliskan buku, yaitu :
-          Konsisten, artinya jika dari awal menulis kata siswa, maka sampai akhir pembahasan tidak usah memberi istilah baru lagim seperti peserta didik, pebelajar.
-          Jangan membuat buku yang sulit dipahami oleh pembaca, karena tidak hanya orang-orang dibidang kalian yang membaca buku kita
-          Jangan membuat buku yang terlalu tebal, buku yang tebal dapat memperlambat proses penyampaian pesan penulis secara keseluruhan.


Rabu, 19 September 2012

Book Industry in Indonesia

Indonesia may not be on your map of the publishing world, but it's certainly a market to watch. The Republic of Indonesia is the world's third-largest democracy (after the USA and India), with about 235 million people, and is currently the world's 20th-largest economy and growing fast. Predictions by Goldman Sachs suggest Indonesia will be the world's 11th largest economy by 2050, behind only China, Japan and India in Asia.




But do the Indonesians buy books? Well, the low standard of living for most Indonesians makes books a luxury item, but its middle class is growing. It's currently an estimated 18 million—larger than the population of the Netherlands, and almost the size of neighbouring Australia. As the middle class grows, there is a growing need for books of all kinds, but especially educational, professional, business and technical books. Last time I visited Indonesia, I was also impressed the number of Arabic language and Islamic titles for sale, which shouldn't surprise: Indonesia is the world's most populous Islamic country, after all.

Indonesia has a decent-size and growing publishing industry. The Indonesian Publishers Association (IKAPI) has about 800 members, up from 450 members just five year ago. The vast majority are based in the most populous island in the Indonesian archipelago, Java, which is home of the capital, Jakarta.

The major challenges facing the Indonesian book industry are structural.

Firstly, maintaining a supply chain over 33 provinces of the archipelago is not easy and, for all the growth in Indonesia's retail sector (shopping malls seem to shooting up everywhere), bookshops are few and far between, with the exception of those run by Gramedia (Indonesia's equivalent of Borders, WHSmith or FNAC, and also a publisher). This is one reason why IKAPI recently established an Indonesian Book Centre in Jakarta. The Centre is home to 200 publishers, providing a focal point where booksellers, authors, wholesalers and consumers can meet with publishers and buy their books. Opened in May 2008, it's still early days for the Centre, which has so far failed to capture the public's imagination, according to a recent report in the Jakarta Post. Business-to-business transactions are reportedly more encouraging. The annual Jakarta Book Fair (or Pesta Buku Jakarta, pictured) is another way of reaching out to the general public and is well-attended by locals (although there is little rights activity at the fair).

Secondly, textbook publishers face the challenge of operating in a market where the Government is under enormous pressure to provide educational materials at a very low cost, or even free. While the large number of 'international schools' are able to buy books for their students, Indonesia's public education system struggles to make ends meet as it tries to educate its enormous population. The Indonesian Educations Ministry's recent initiative to make educational materials free online threatens the income of educational publishers.

Lastly, doing business in Indonesia can be problematic. Graft and corruption is not unknown, particularly in the customs and excise department, making the simple activities of import/export something of a trial. The legal system can be unpredictable too, making things such as enforcement of copyright somewhat chancey. Matters are improving, however. The Government of President Susilo Bambang Yudhoyono has announced a zero tolerance approach to corruption, and thousands of public officials have found themselves prosecuted by the Anti-Corruption Commission (the KPK) in recent years.

Indonesian publishers are certainly buying and paying for books, notwithstanding the challenges in this market. As well as lots of US books (Indonesia has a historically close relationship with both the Netherlands and the USA), I saw Bahasa Indonesia editions of books from France, the UK, Australia and even Slovenia on display at the Pesta Buku.

If you're interested in finding out more about this growing market, why not take some time at Frankfurt to visit the Indonesian Publishers Association (IKAPI) stand at Hall 6.0 E915? You may be pleasantly surprised. If your interests extend to Indonesian literature, the Lontar Foundation website is a good place to start. It's role is to promote Indonesian literature internationally.

Selasa, 12 Juni 2012

Katagori Adopter apakah para Lulusan Teknologi Pendidikan?

untuk mengingatkan kembali mengenai katagori adobter, disini saya akan jelaskan kembali mengenai katagori adopter. Katagori adobter pada difusi inovasi, terdiri dari 5 yaitu
1. 
Innovators
orang yang pertama kali mengadopsi inovasi. Individu-individu yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Kemampuan finansialnya harus cukup mendukung keinginan tersebut, karena belum tentu inovasi yang dicobanya menghasilkan sesuatu yang menguntungkan secara finansial. Mereka juga berhadapan dengan resiko ketidakpastian dalam mengadopsi inovasi. Tidak jarang inovator harus kembali kepada praktek atau metode lama karena inovasi yang dicobanya ternyata tidak sesuai dengan kondisi lingkungannya. 
2. 
Early Adopters (Perintis/Pelopor)
Orang yang menjadi perintisdalam penerimaan inovasi. Kelompok ini selalu mencari informasi tentang inovasi terbaru. Mereka dalam kategori ini sangat disegani dan dihormati oleh kelompoknya karena kesuksesan mereka dan keinginannya untuk mencoba inovasi baru.
3. 
Early Majority (Pengikut Dini)

para pengikut awal. Kategori pengadopsi seperti ini merupakan mereka yang tidak mau menjadi kelompok pertama yang mengadopsi sebuah inovasi. mereka akan dengan berkompromi secara hati-hati sebelum membuat keputusan dalam mengadopsi inovasi. kelompok seperti ini menunjukkan kepada seluruh komunitas bahwa sebuah inovasi layak digunakan atau cukup bermanfaat.
4. 
Late Majority (Pengikut Akhir)
terakhir dalam menerima inovasi. Mayoritas kelompok ini mengadopsi inovasi hanya setelah rata-rata anggota suatu sistem menggunakan inovasi tersebut. Kelompok yang ini lebih berhati-hati mengenai fungsi sebuah inovasi. Mereka menunggu hingga kebanyakan orang telah mencoba dan mengadopsi inovasi sebelum mereka mengambil keputusan. Terkadang, tekanan dari kelompoknya bisa memotivasi mereka. Dalam kasus lain, kepentingan ekonomi mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
5. 
Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional)

sangat ketinggalan zaman dan menolak inovasi. kelompok yang paling bersifat lokalit di dalam memandang suatu inovasi. Kebanyakan mereka terisolasi dari lingkungannya, sementara orientasi mereka kebanyakan adalah pada masa lalu. Keputusan-keputusan diwarnai dengan pertimbangan apa yang telah dilakukan pada masa lampau, sedangkan interaksi mereka kebanyakan hanya dengan sesamanya yang mempercayainya tradisi lebih dari yang lain. Mereka memiliki kecurigaan yang tinggi terhadap inovasi, kelompok terdahulu telah berpikir untuk mengadopsi inovasi yang lain lagi. Semuanya bermula dari keterbatasan sumberdaya yang ada pada mereka, sehingga mereka benar-benar harus yakin bahwa mereka terbatas dari resiko yang dapat membahayakan ketersediaan sumberdaya yang terbatas tersebut.
Berdasarkan pertanyaan diForum FB DIP mengenai lulusan TP, termaksud dalam kategori adobter yang mana?
Dibawah ini, akan di paparkan mengenai kategori lulusan TP, dan berbagai macam alasan yang diberikan oleh mahasiswa yang mengikuti matakuliah DIP REG.
 
Hasil Survei Kategori Adopter DIP REG 2010
Indikator Jawaban
Indikator Jawaban
Jumlah Mahasiswa
Presentase
Innovators
21
68%
Early Adopters
1
3%
Innovators or Early Adopters
4
13%
Belum Menjawab
5
16%
TOTAL
31
100%
Diagram Batang :






Indikator Alasan
I     = Innnovators
EA  = Early Adopters
BM = Belum Menjawab
a. Diagram Batang
b. Diagram Lingkaran
 ket:
I1           : TP harus kreatif dan inovatif dalam memfasilitasi pembelajaran
I2           : TP sebagai agen perubahan dalam menciptakan inovasi dan memfasilitasi belajar
I3           : Menciptakan inovasi baru dalam pendidikan untuk memecahkan masalah belajar
I4           : TP untuk memfasilitasi belajar serta meningkatkan kinerja dengan menciptakan inovasi
I5           : Sebagai pintu gerbang masuknya ide baru dalam sistem sosial
I6           : Harus peka terhadap suatu inovasi
I7           : Menyadari inovasi sebagai solusi atas permasalahan
EA          : Memakai setelah melihat efek dari suatu inovasi
I/EA1     : Melahirkan benih atau sikap untuk dapat menjadi innovators
I/EA2     : Harus berinovasi dan cepat menerima inovasi
I/EA3     : TP seharusnya menjadi innovators tetapi terkadang kalah dengan industri
I/EA4     : Mudah bosan dengan nilai yang sudah baku dan cenderung mencari alternatif lain
Dari data yang telah diperoleh melalui hasil suvei pada kelas DIP REG 2010 dalam forum diskusi di Facebook mengenai menjadi kategori yang mana setelah lulus dari TP nanti, dapat dilihat bahwa jawaban terbanyak adalah masuk dalam kategori innovators. Mengapa?
Perlu kita ketahui bahwa innovators merupakan individu yang pertama kali mengadopsi inovasi dan mempunyai karakteristik petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, dan rata-rata kemampuan ekonomi tinggi. Dari jawaban yang beragam, telah ditemukan beberapa alasan yang berbeda. Mulai dari lulusan TP yang harus kreatif dan inofatif dalam memfasilitasi pembelajaran, TP sebagai agen perubahan, harus peka terhadap inovasi, dapat menciptakan inovasi baru untuk meningkatkan pembelajaran dan kinerja, juga sebagai pintu gerbang ide dalam suatu sistem sosial. Kata kunci dari semua alasan tersebut sebenarnya mengacu pada memfasilitasi dan meningkatkan pembelajaran. Karena pada dasarnya memang inovasi merupakan hal yang dilakukan secara sengaja untuk dapat meningkatkan kualitas maupun kinerja, dalam TP konteksnya adalah pendidikan.
Mungkin bila ada pertanyaan, apakah seorang innovators harus memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi? Pada dasarnya seorang innovators yang memiliki kemampuan ekonomi yang tinggi tidak akan merasa rugi apabila inovasi tidak sesuai dengan kebutuhannya. Namun, bila tidak cukup dengan kemampuan ekonomi, seseorang dapat bekerja sama dengan pihak lain, apakah dalam bentuk donatur maupun sponsor. Karena kita berada dalam suatu lingkungan sosial.
Disamping itu, ada pula yang menjawab sebagai kategori early adopters dengan alasan bahwa kita sebagai adopters harus melihat dahulu efek yang ditimbulkan dari inovasi tersebut. Mungkin sebenarnya ini lebih termasuk ke dalam early majority yang penuh dengan pertimbangan. Karena early adopters juga mampu menerima ketidakpastian dari suatu inovasi. Sedangkan early majority penuh pertimbangan dalam mengadopsi suatu inovasi.
Dan jawaban yang terakhir adalah sebagai innovators dan dapat pula menjadi early adopters. Alasan mereka beragam, mulai dari tidak hanya harus berinovasi tetapi juga harus cepat dalam menerima inovasi, mudah bosan dengan hal yang baku dan mencari alternatif lain, dan kalah saing dengan industri. Memang seorang TP dapat menjadi innovators atau early adopters, tergantung pada kondisinya. Karena early adopters dipadang sebagai panutan, atau seseorang maupun kelompok yang memberikan panutan maupun pandangan kepada orang lain maupun kelompok lain dalam mengadopsi suatu inovasi.
Jadi, pada dasarnya lulusan TP nanti dapat menjadi innovators, early adopters, early majority, late majority, atau bahkan laggards. Idealnya memang seharusnya sebagai lulusan TP nanti kita harus menjadi innovators atau setidaknya early adopters dalam dunia pendidikan. Karena kita telah dibekali ilmu untuk memcahkan masalah belajar dan untuk memfasilitasi belajar agar belajar jadi lebih efektif, efisien, dan juga menyenangkan. Tapi juga tidak menutup kemungkinan akan menjadi kategori adopters yang lainnya. Karena niat, tujuan, ilmu, pengalaman, dan banyak hal lainnya yang menyebabkan individu berbeda-beda. Tetapi, diharapkan seluruh lulusan TP nanti termasuk dalam kategori innovators.
sumber : Rogers, Everett M, 1983, Diffusions of Innovations, Third Edition. New York: TreePress