Sabtu, 31 Maret 2012
Sekilas tentang komunitas kami, Earth Hour
Selasa, 29 November 2011
Shuffle Dance
Ya, kali ini gue akan membahas tentang fenomena Shuffle Dance ya Shuffle Dance.
Akhir-akhir ini kita melihat iklan di TV (bagi yang punya TV) pasti diselingi oleh sekelompok orang yang memeragakan gerakan Shuffle Dance. Mungkin kita semua sudah tau apa itu Shuffle Dance, yaitu berupa gerakan dance yang lebih menonjolkan gerakan kaki. Kalo gue liat sekilas, kayaknya itu cuma gerakan kaki yang sia-sia. Tapi setelah gue mempraktekannya, itu lumayan menguras tenaga dan keringat ya keringat. Pertama kali gue tertarik dengan shuffle gara2 ngeliat video klipnya Party Rock Anthem, lalu gue buka Youtube dan mencari-cari video yang memperlihatkan gerakan shuffle. Ternyata gerakannya sederhana kok, kalo lo punya niatan belajar shuffle. Tapi menurut gue shuffle dance itu bikin sol di sepatu jadi rusak, tapi di sisi lain itu membuat rejeki para ahli sepatu jadi bertambah. Dan sejenak gue berpikir, kenapa gue gak jadi tukang sol sepatu aja ya ? Dan hal itu membuat gue galau, gelisah, panik. Tapi pada akhirnya, gue memutuskan untuk mengakhiri postingan ini. Sorry postingan gue ini agak nyampah dan gak penting.
Selasa, 02 November 2010
Perangkat Sederhana Simpan Data Berharga
KOMPAS.com — Tampilan tidak banyak ornamen, pernak-pernik, ataupun pelengkap lainnya malah menambah kesan simpel harddisk eksternal yang satu ini. Buat pengguna yang suka kesederhanaan, Axioo Dano bisa jadi pilihan.
Meski bentuknya simpel, penyimpan data eksternal dengan pilihan kapasitas 250 GB, 320 GB, 500 GB, 640 GB, dan 750 GB. Tampilannya boleh sederhana, tetapi dilihat dari kapasitasnya, pastinya luar biasa. Anda diberi keleluasaan memilih kapasitas yang pas sesuai dengan kebutuhan penyimpanan data berharga Anda.
Balutan cangkang warna hitam pekat dengan desain anti-gores dan indikator lampu berbentuk segitiga berwarna merah menjadikan perangkat ini tampak manis dan elegan. Lampu indikator merah semakin memperkuat tampilan logo Axioo yang ada di sampingnya.
Perangkat eksternal ringan dengan berat hanya 137 gram ini sangat cocok bagi Anda yang aktif bergerak. Ukuran yang kompak dengan panjang, lebar, dan tebal 124,5 x 77,5 x 14,1 mm memungkinkan peranti ini tidak banyak memakan tempat dan praktis untuk dibawa. Perangkat ini bisa dipakai langsung di komputer dengan sistem operasi Linux, Window XP, Windows Vista, dan Windows 7.
Indonesia Rangking 3 Penyumbang "Tweet" Terbanyak di Dunia
JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah bertengger sebagai negara ketiga dengan pengguna Facebook terbesar di dunia, kini Indonesia pun mencatatkan diri sebagai negara dengan peringkat ketiga penyumbang tweet terbanyak di dunia. Demikian hasil riset terakhir yang dilakukan perusahaan Perancis, Semiocast, seperti dilansir situs Thenextweb.com.
Semiocast melakukan pemantauan terhadap 2,9 juta tweet atau pesan di Twitter selama 24 jam pada 22 Juni 2010. Algoritma yang dikembangkan perusahaan tersebut dapat menentukan dari mana tweet tersebut berasal.
Hasil pemantauan menunjukkan, sumbangan tweet terbanyak masih berasal dari AS seperti bulan sebelumnya dengan persentase 25 persen, diikuti Jepang dengan 18 persen, dan Indonesia 12 persen. Pada riset sebulan sebelumnya, Indonesia masih di urutan keempat dengan sumbangan 10 persen setelah AS dengan 30 persen, Jepang, 15 persen, dan Brasil 12 persen.
Semiocast pada riset sebelumnya pada Mei 2010 mencatat jumlah tweet dari Indonesia mencapai 5 juta tweet dalam sehari. Sekitar 12 persen di antaranya menggunakan bahasa Inggris. Bandingkan dengan Jepang yang 95 persen tweet dalam bahasa mereka sendiri.
Genitnya Facebook Indonesia
Indonesia dipatok pada peringkat ketiga setelah Inggris dan AS. Inggris, peringkat kedua disebut memiliki komunitas Facebook 24,1 juta orang. AS pada peringkat pertama dengan Facebook lovers sebanyak 118,7 juta orang. Indonesia, peringkat ketiga berada di atas sejumlah negara maju seperti Perancis, Italia, Kanada, dan Spanyol.
Ditaksir, registered users di Indonesia yang menggunakan Facebook berjumlah 22,7 juta orang. Saya asumsikan, mungkinkah jumlah ini adalah bagian dari mitos 30 hingga 40 juta kelas menengah Indonesia. Bagi yang senang statistik, informasi ini menarik buat bahan kajian.
Arti peringkat itu bermakna multi-tafsir. Indonesia menjadi negara terbesar ketiga multimedia user. Bisa juga, jutaan generasi mudanya ngabisin banyak waktunya dengan Facebook. Di kantor, di rumah, di warnet, mobile, pub, cafe, dll. Facebook benar-benar menjadi pandemi. Kata kawan saya, "I don't know whether you are lucky being the fourth most populous nation on earth or feel stressful because of that."
Karenanya, bagi yang sinis, peringkat ketiga adalah wajar. Net-populasi sebanding dengan bertambahnya pecinta multimedia. Wong, saban jam ribuan anak lahir. Enggak termasuk yang "dibuang" orang tuanya. Atau tak diakui ama pasangan "lebay bin jablay" yang hanya doyan enaknya doang. Populasi mereka tak tercatat, soalnya.
Bagi saya, ambil positifnya. Data itu menunjukkan jika Indonesia adalah potensial menjadi the world’s fastest growing mobile consumer markets. Toh, kita sudah dianggap bagian dari top 20 internet users di dunia. Makanya, trending topic di Twitter seringkali didominasi isu-isu atau sosok kontroversial asal indonesia. Dari Panasonic Gobel hingga Ariel Peterporn. Semua ngalahin Justin Bieber. Wow!
Yahoo Net-index Study yang dirilis tahun ini, menempatkan Indonesia sebagai yang terdepan dalam "online growth" di Asia Tenggara. Malah menurut Morgan Stanley, Indonesia menduduki peringkat 10 global dalam kategori "3g subscriber growth". Kedengerannya asyik, ya? Rasanya bangga juga sih.
Masalahnya, di sela rasa bangga itu juga, terselip kekhawatiran luar biasa. Pakem umum, di mana ada pertumbuhan pasti ada pergolakan. Di mana ada gula, di situ ada semut. Facebook yang berjamur juga memudahkan tumbuhnya kejahatan dan deviasi moral. Kita sudah menyaksikannya kini. Dan kita akan terus menyaksikan kasus-kasus kriminal terkait dengan penyalahgunaan multimedia. Semoga kita pun dapat menemukan antidot-nya.
Jangan Malu untuk Memulai "Nge-blog"
KOMPAS.com - Pada masa awal kelahirannya, blog atau situs pribadi dianggap sebelah mata, bahkan cenderung dilecehkan. Sampai sekarang pun sikap nyinyir terhadap bloger tidak pernah hilang. Disebutlah bloger itu narsis yang buang-buang waktu percuma. Persis lahirnya sebuah revolusi, kehadiran awalnya diragukan.
Sekarang, orang yang melek internet tetapi belum nge-blog, istilah merujuk aktivitas dalam membuat dan mengisi blog, dianggap tertinggal zaman. Blog sudah menjadi gaya hidup, mulai dari anak sekolah dasar, selebriti, sampai menteri. Bahkan, 94 dari 96 suratkabar cetak terbaik di Amerika Serikat memiliki blog. Hanya empat surat kabar saja yang "jadul" alias terseret zaman karena tidak memiliki blog.
Jelaslah, di belahan dunia sana blog sudah masuk salah satu kriteria penting sebagai penentu berkualitas tidaknya sebuah surat kabar. Beberapa surat kabar cetak di Indonesia sudah memiliki kesadaran lebih dini dengan membuat blog sebagai tempat curhat para wartawannya atau tempat mengekspos kegiatan keseharian surat kabar itu, yang tidak mungkin termuat dalam surat kabar.
Di Eropa atau Amerika, surat kabar online pun memiliki blog sendiri-sendiri, plus blog pribadi wartawannya yang bisa diklik di jajaran navigasi global pada tampilan surat kabar online tersebut. Ada "cerita di balik berita" yang lebih bebas terungkap dalam blog, yang kadang justru lebih menarik daripada peristiwa itu sendiri.
Ada forum dialog intens yang hangat antara wartawan dan para pembaca. Ada keakraban di sana. Seluruh wartawan, editor, dan pemilik surat kabar bisa disapa serta ditanya tentang berbagai hal. Wartawan yang menulis berita tidak lagi asal lempar tulisan setelah itu tutup telinga: "terserah tulisanku mau dibaca atau tidak, pokoknya masa bodoh".
Hubungan antara koran yang diwakili wartawan dan para pembacanya menjadi berjarak. Wartawan kerap dicap sebagai "orang pintar" yang duduk di menara gading, yang sulit dan tidak bisa disapa pembaca. Akan berbeda persoalannya jika sebuah surat kabar memiliki blog sendiri. Suasana lebih akrab bisa terjalin karena dipersatukan minat yang sama. Wartawan yang biasa menulis rubrik khusus, seperti otomotif, teknologi informasi, dan politik, memiliki "basis massa" pembaca yang luar biasa besar.
Sayang, selama ini aliran informasi hanya satu arah sifatnya. Tidak ada dialog interaktif untuk menangkap umpan balik (feedback) pembacanya, yang kemungkinan ada persoalan baru lainnya yang muncul dari hasil dialog interaktif itu untuk bahan tulisan berikutnya. Bukankah dalam dunia media online ada adagium bahwa berita adalah percakapan itu sendiri?
Wartawan memang manusia supersibuk yang tidak punya waktu membalas sapaan pembacanya di blog. Membalas sapaan pembaca di blog berarti buang-buang waktu sehingga waktu untuk menulis tersita. Tentu saja wartawan tidak harus memelototi blog tiap hari. Kalau tidak punya waktu, barangkali cukup seminggu sekali, sebulan dua kali, atau boleh juga sebulan sekali. Sekadar "say hello" saja kepada pembacanya.
Maka, berkumpulnya para blogger dari berbagai penjuru Tanah Air di Blitz Megaplex Jakarta, 27 Oktober lalu, menjadi penting. Selain menunjukkan keberadaan para blogger, ada semangat memperekat komunitas blogger. Meski belum pernah bertemu secara fisik dan hanya bertutur sapa di dunia maya lewat media maya, toh pertemuan itu menjadi "kopi darat" pertama yang terbesar. Beberapa wartawan peliput acara yang kemudian diklaim sebagai "Hari Blogger Nasional" itu adalah bloger, karena kesadaran mereka untuk berada dalam satu komunitas yang sama, yang sudah terbiasa saling menyapa dalam dunia maya.
Jumlah 130.000 blogger Indonesia belum apa-apa dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sudah menyundul angka 230 juta jiwa. Namun, melihat antusias orang yang terus membuat blog di seluruh dunia, jumlah itu rasanya terlalu kecil. Tengok Wordpress, salah satu situs penyedia blog terdepan saat ini, di mana setiap harinya mencatat 50.000 pembuat blog baru. Anda? Jangan malu untuk memulai!
Rabu, 13 Oktober 2010
Mahasiswa UGM Kembangkan Limbah Salak Pondoh Jadi Bioethanol Bagus Kurniawan - detikNews
Kabupaten Sleman terutama di Kecamatan Turi dikenal sebagai sentra salah pondoh yang dikirimkan di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan diekspor hingga Cina, Malaysia dan Singapura. Namun diperkirakan sekitar 5 persen dari salah pondok yang dihasilkan, ada yang tidak laku dijual akibat busuk.
Selama ini berton-ton salak pondok yang busuk oleh para petani hanya dibuang percuma atau menjadi sampah.
Adhita Sri Prabakusuma, mahasiswa jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM bersama anggota tim peneliti dan warga Dusun Ledoknongko, Desa Bangunkerto, Turi berhasil memanfaatkan limbah salah pondoh menjadi barang yang berguna yaitu bioethanol.
Bioethanol ini tidak hanya untuk bahan bakar kompor, tapi juga bisa
dipasarkan ke apotik atau laboratorium. Saat ini harga jualnya bisa mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per liter.
"Kami ingin memberikan pengetahuan pada petani salak, bahwa limbah salak itu masih punya nilai ekonomis, tidak dibuang percuma jadi sampah. Tapi bisa dibuat bioethanol dengan nilai jual tinggi," kata Praba kepada wartawan, Selasa (12/10/2010).
Menurut dia, sekitar 10 kilogram salak bisa menghasilkan 1 liter bioethanol. Namun sebelumnya limbah salak tersebut difermentasikan dahulu selama satu minggu dengan menambah ragi dan urea.
Caranya kata Praba, cairan fermentasi salak pondok terlebih dulu dipanaskan dengan suhu 70 derajat pada tabung destilasi atau menggunakan alat destilator. Hasil pemanasan ini bisa nantinya menghasilkan bioethanol. Cairan bioethanol kemudian dimasukkan dalam botol plastik dengan selang pipa dan ditutup rapat.
"Cairan kemudian dialirkan ke kompor gas dengan cara disuntik," kata Praba yang pernah diundang mempresentasikan hasil penelitiannya dalam International Agriculture Symposium di Malaysia beberapa waktu yang lalu.
Menurut dia, limbah salak yang tidak layak jual di Dusun Ledoknongko setiap bulan saat musim panen bisa mencapai 1-3 ton. Salak-salak busuk yang terbuang percuma itu bisa menjadi bioethanol. Sisa hasil destilasi berupa ampas, bisa dibuat pupuk organik untuk pertanian.
Dia kersama kelompok tani salak pondok "Si Cantik" Dusun Ledoknongko terus
mensosialisasikan pemanfaatan limbah salak pondoh tersebut. Meski diakui masih ada beberapa hambatan dari kalangan petani sendiri.
"Kami bersama Pak Purwanto Ismaya ketua kelompok terus mensosialisaikan
teknologi baru, meski agak sulit karena masih dinilai kurang ekonomis. Kami ingin agar limbah salak ini tidak dianggap sebagai sampah saja, tapi sebagai hal bermanfaat dan potensial untuk sumber penghasilan tambahan," katanya.


