RSS

Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2012

Learning on Facebook? Why Not? Its our inovation




     Facebook sendiri adalah suatu jejaring sosial yang memiliki User atau pengguna yang sangat banyak.  Disinilah para desainer pembelajaran melihat ada suatu ruang dalam Facebook yang bisa dijadikan media untuk pembelajaran (berdiskusi, membuat forum dsb). 
     Teknologi Pendidikan,  sebagai salah satu jurusan muda di UNJ juga melihat peluang yang sangat advantegeble (menguntungkan) akan kegunaan Facebook sebagai media pembelajaran. Disini, mereka menggunakan social network Facebook sebagai media diskusi pada salah satu mata kuliah, yaitu Difusi Inovasi Pembelajaran. Para dosen paham jika semua mahasiwa teknologi seharusnya mempunyai daya interest akan sistem belajar seperti ini. Karena pemanfaatan facebook sendiri memberikan usaha tidak sadar kepada mahasiswa untuk belajar.
        Selama proses pembelajaran melalui media Facebook, dosen menemukan suatu problem yaitu tingkat keaktifan mahasiswa dalam merespon suatu pertanyaan dari hari ke hari semakin rendah. Oleh karena itu, diadakannya analisis peserta didik melalui suatu survei. Peneliti mengadakan survei dengan melihat seberapa banyak repon/tanggapan para mahasiswa pada suatu kasus/pertanyaan.
Para mahasiswa diminta untuk menanggapi pertanyaan dosen mengenai “apakah facebook termasuk inovasi pembelajaran?”. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik tabulasi dalam mengambil data dari para respon per mahasiswa.


B.    Hasil Survey

        Grup tertutup DIP didalam Facebook tentu sudah memiliki sejumlah anggota (yang terdiri dari mahasiswa) dan dosen sebagai adminnya. Pada grup reguler 2010, jumlah keseluruhan anggota grup sebanyak 33 orang (termasuk 2 dosen sebagai admin).
      Pada pertanyaan dosen yang meminta mahasiswa menanggapi “apakah grup facebook DIP merupakan inovasi pembelajaran?” dapat didata berapa banyak mahasiswa yang menjawab/merespon pertanyaan tersebut. Hasil dapat dilihat melalui sebuah tabel berikut :














        Pada tabel diatas, dapat dijelaskan bahwa sebagian besar atau kira-kira 98% dari total mahasiswa merespon pertanyaan tersebut. Data ini juga bisa disajikan dalam Grafik atau Diagram Pie seperti ini:


















        Kemudian pada kategori pertanyaan berikutnya adalah ketika survey berkaitan tentang jawaban mahasiswa yang terdiri dari berbagai macam kategori, seperti “YES” , “NO” dan “YES & NO”, pada survey ini dapat digambarkan sebuah grafik untuk memperjelas hasil :














Pada grafik diatas dapat dijelaskan bahwa respon mahasiswa seperti berikut :

















Setelah itu pada survey yang terakhir adalah mengenai jumlah beragam/dinamika jenis alasan mahasiswa terhadap jawaban mereka sebelumnya, dari survey tersebut dapat dibuat grafik batang seperti berikut :














      Pada grafik diatas, disimpulkan bahwa jawaban dan alasan mahasiswa beragam, dari alasan yang beragam tersebut, beberapa alasan dapat dikategorikan lagi menjadi 6 katagori alasan, yaitu :
YES A : Beralasan bahwa Grup DIP Facebook merupakan sesuatu hal yang baru. (mengacu teori Rogers)
YES B : Beralasan bahwa Grup DIP Facebook merupakan suatu media pembelajaran yang dapat mencapai tujuan pembelajaran DIP. (mengacu teori rogers)
YES C : Beralasan bahwa Grup DIP Facebook merupakan inovasi karena mencakup semua mahasiswa TP. (mencakup teori Rogers)
NO A : Beralasan bahwa Grup DIP Facebook tidak berkelanjutan (mengacu teori Reigeluth)
NO B : Beralasan bahwa Grup DIP Facebook tidak menyeluruh dan tidak mencakup semua aspek. (mengacu teori Reigeluth)
NO C : Beralasan bahwa Grup DIP Facebook bukan Inovasi karena grup tersebut bukanlah hal yang baru baginya.


      Pada grafik diatas, dapat dijabarkan lebih jelas berapa jumlah mahasiswa yang menjawab dengan menggunakan tabel :












C.    PEMBAHASAN


      Berdasarkan survey yang dibuat pada tanggal 7 Maret 2012 tepat pada pukul 21:03 WIB data yang dihasilkan menyimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa sudah merespon pertanyaan dari sang dosen yang diposting pada tanggal 28 Februari 2012 pada pukul 20:16 WIB.
Dari 31 mahasiswa, 29 mahasiswa sudah merespon pertanyaan tersebut dan 2 lainnya belum juga memposting.
    Dapat dianalasis bahwa mahasiswa dapat dengan mudah mengakses internet dan mengerti penggunaan Facebook. Dan mahasiswa lainnya masih belum bisa mengakses internet dengan mudah karena keterbatasan fasilitas maka hanya dapat merespon pertanyaan pada waktu tertentu saja (mungkin saat perkuliahan atau saat ia mempunyai uang untuk ke warnet).
      Dilain sisi, dilihat dari segi beragam jawabannya, dapat diuraikan dengan jelas bahwa sebagian besar memilih jawaban YES & NO. YES karena mahasiswa melihat dari definisi Rogers yang mengatakan bahwa suatu ide, gagasan, praktek atau objek/benda yang disadari dan diterima sebagai suatu hal yang baru oleh seseorang atau kelompok untuk diadopsi. Berdasarkan definisi tersebut, mahasiswa beranggapan bahwa Grup DIP Facebook itu termasuk Inovasi.
     Berbeda dengan yang menganggap  bahwa Grup DIP Facebook bukan sebuah inovasi karena mahasiswa lebih melihat atas pengertian Inovasi menurut Reigeluth yang mengatakan bahwa inovasi merupakan suatu proses perubahan secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam mencapai suatu tujuan tertentu dimana hal ini dilakukan untuk memperbaiki sistem yang telah ada sebelumnya dengan melibatkan berbagai aspek agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai . Mahasiswa beranggapan bahwa Grup DIP Facebook tidak mengandung prinsip berkelanjutan dan mencakup semua aspek seperti yang ada didalam definisi diatas.


D.    KESIMPULAN


        Teknologi Pendidikan adalah sebuah jurusan yang bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran agar terjadi proses peningkatan kinerja dan kemampuan intelektual dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar. Mahasiswa Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta juga berusaha berinovasi dengan membuat media Facebook (melalui facebook grup) sebagai media pembelajaran Difusi Inovasi Pendidikan.
     Dari sebuah forum di Grup tersebut dapat disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswa tergolong aktif dalam forum tersebut, walaupun dengan perjalanan waktu yang cukup lama hingga baru semua mahasiswa didalamnya terlibat. Suatu forum mengenai kategori inovasi sebuah grup edukasi menghasilkan suatu kesimpulan yang dilihat dari berbagai tanggapan dari mahasiswa bahwa Grup tersebut adalah sebuah inovasi.
         Dilain sisi, agar grup ini dapat menjadi sumber belajar yang baik, setiap mahasiswa seyogyanya mempunyai kesadaran untuk selalu membuka dan melihat apa saja yang terbaru/postingan baru yang ada di grup tersebut. Karena kita semua tahu bahwa akses Facebook dizaman teknologi ini sangatlah mudah. Learning on Facebook? Why Not? Its our inovation.     


DAFTAR PUSTAKA 


Roger, Everett M. 1995. Diffusion of Innovations Four Edition.New York: The Free Press
http://learningandsocialnetworking.blogspot.com/2009/11/facebook-and-education-pros-and-cons.html
http://www.facebook.com/groups/168239919956693/
http://mashable.com/2011/04/26/facebook-for-schools/

Jumat, 17 Februari 2012

DIP dalam Teknologi Pendidikan

TP sangat berkontribusi dalam berbagai perencanaan pendidikan, TP juga dituntut untuk dapat memecahkan suatu permasalahan pembelajaran. TP berusaha menganalisa, mendesain, mengembangkan, mengimplementasi juga mengevaluasi sistem belajar agar dapat dimengerti dan mudah dipahami oleh peserta didik dari berbagai aspek yang berbeda.



Oleh karena itu DIP sangat dibutuhkan oleh TP sebagai mata kuliah karena untuk dapat memecahkan suatu permasalahan belajar kita perlu membuat ide-ide baru dalam dunia pendidikan yang berbeda dari yang sebelumnya. Ide-ide baru tersebut bisa juga dikatakan sebagai perubahan, perubaha-perubahan yang bisa dilakukan oleh TP misalnya dengan membuat suatu perubahan maupun pembaharuan dalam metode apa yang digunakan, Pada akhirnya akan berpengaruh dalam peningkatan kinerja seseorang maupun peserta didik.

Jumat, 10 Februari 2012

Pencapaian 095

Hell-ooooooooooooo worldwide. Sudah lama gue ga nulis blog lagi, secara dari kemarin pulsa modem gue udah abis. Sok lah, dari kemarin sebenernya gue lagi liburan semester 3. Liburan? Liburan? Liburan?

Baiklah, itu liburan kok! Diisi dengan bolak-balik ke kampus ngurusin beasiswa (semoga keterima), ngurusin nilai yang terbengkalai, dan ngurusin semua-semuanya dikampus. Intinya gue liburan dikampus. Senangnyaaaaaa   *cih
Oh ya, soal nilai.. zzzzzz  IP gue terjun bebas loh. Semester 2 kemarin gue dapet 3,48 sekarang masa jadi 3,13 -______________-
Oke, intinya gue anjlok di 2 mata kuliah dan dengan dosen yang sama. Kepala jurusan gue. Yah dia orangnya memang selalu perfeksionis. Inilah rincian nilai gue:
•    Teknologi Kinerja       : D
•    TBP                               : C
•    SBT                              : B
•    Antropend                    : A
•    Psikopend                     : A
•    Kewirausahaan          : A
•    Peng.Perpustakaan    : A
•    EHB                              : A

Ah sial, tekkin gue D. Tapi kemarin ternyata ada kesalahan pengentry-an nilai, dan akhirnya tekkin gue berubah jadi B   *bow*
Yasudahlah, mari kita bersyukur dan harus lebih semangat semester 4!!!!! Hosssssh

Jumat, 01 Juli 2011

Kuliah--Liburan

Akhirnyaaaaaaa……. UAS selesai juga desu ^.^ *sujudsyukur*

Bingung mau nulis apa di blog ini, hmm *mikir*

Semalem gue baru dapet kabar kalo nilai udah keluar semua, hadeh dag dig dug, gue kan orangnya o’on kalo ngerjain soal. Palingan itu nilainya “Copet” semua isinya alias C, untung-untung nilai B nyangkut mudah-mudahan *hiks* *ngusapairmata*

Akhirnya gue memutuskan untuk sms temen gue yang emang sering ngecek website kampus gue, namanya Nivo.

“Nipo, gue nitip nilai yak.” Akhirnya gue kasih dah tuh ID sama password gue. Bodo dah, abis gue males banget mesti ke warnet. Masalahnya itu, modem gue diilangin sama adek gue yang keblinger -__-

Gue pun dengan dodolnya ketiduran….

Pagi-paginya gue bangun dan dapet sms dari nipo, isinya sempat membuat jantung gue ilang..:

“ini yu nilai lo:

1. Psikologi Pend : A

2. LTP : B

3. Komunikasi Visual : B

4. PMS : A

5. Komgraf : B

6. Fotografi : A

7. Logika : A

Yang MKU belum keluar semua yu”

Wahahaha langsung bangun dari tempat tidur dah tuh gue. Haha beneran nih nilai gue? Ga salah? -.-

Alhamdulillah…..kaga ada yang dapet C seengganya. *bersyukur*

Yayaya lupakan soal nilai, sekarang gue juga lagi galau nih. Liburan kampus 3 bulan mamen, ngapain aja gue coba selama liburan itu? Numpuk lemak? BIG NO!! ga mau, badan gue udah segentong gini masa mau dirumah aja sih. Akhirnya gue memutuskan untuk membuat rencana liburan bermanfaat bersama sahabat kampus terbaik dan tersayang gue Chabo a.k.a Ita Rospita (orang betawi doi, bukan sunda!!). wehehehe…

Okeh, rencana yang bermanfaat, tapi gue sempet berpikir kayaknya kebanyakan seneng-senengnya doang dah ini -__-“ well, menikmati hidup itu penting bro, yang penting kan jangan dirumah terus! *maksa*

Gue sama chabo sempet mencatat apa saja hal yang akan kita lewati selama liburan. Hal pertama dimulai dengan latihan nyetir mobil.

Yap, temen gue satu lagi di kampus si Dzaky dengan senang hati mau ngajarin kita nyetir. Yahahaha mumpung doi punya mobil juga kan. Lah gue? Mobil ada juga mobil polisi bokap gue kali juga. Ckckck. Dengan semangat sebelum liburan tiba, kita berdua selalu mengingatkan hal itu kepada dzaky. Entah kenapa, sampai liburan juga belum terlaksana. Yah, emang sih doi lagi sibuk belajar buat ujian masuk UI #eh keceplosan. Oke, kesimpulannya, liburan dengan belajar nyetir pending dulu.

Yang kedua, kita berencana ke pulau cinta. Haha pulau seribu maksud gue. Kalo rencana ini sih masih ga pasti banget. Karena gue mesti ngajak cowo gue si aldi. Gue tau dia itu SIBUK, tapi gue ga tau sibuknya dia itu ngapain selain urusan kuliah. Hemmmmm rada galau juga kalo inget dia. HAH jadi curhat gini. Jadi, rencana ke pulau cinta masih ngawang. Zzz

Yang ketiga, kemanusiaan yang adil dan beradab #eh salah, maksud gue yang ketiga itu kita berencana karaokean. Yeah yeah yeah.. karaokean! Nah karaokean inilah yang memunculkan banyak kegalauan. Hmm, rencanainnya tuh udah dari lama banget. Tapi pelaksanaanya ga jadi-jadi. Sempet bikin gue bête juga sih. Karena lo tau ga sih, selama liburan ini, gue juga dapet kerja magang gitu di BPS (Badan Pusat Statistik). Nah galau kan lo. Makanya sebelum gue magang, gue mau nyempetin liburan bareng temen-temen. Nah, sampai hari terakhir, yaitu hari ini tanggal 1 juli, hari terakhir gue libur, karaokean juga belom terlaksana. Oke, mari kita lupakan ini. -___- swt

Yang keempat, gue sama anak-anak 1 jurusan di kampus berniat liburan di kampungnya Fadhilla (salah satu temen 1 jurusan juga). Kampungnya itu di Lebak, Banten. Wess dah, gue pikir kan enak banget ya gitu liburan ga usah nyari tempat nginep. Kita berencana sehabis UAS selesai, kalo gue ga salah inget. Waktu itu, kata siapa gatau lupa, katanya kita berangkat tanggal 4 Juli. Nyahahahah, waktu terus bergulir, dan sampai hari ini belum ada kejelasan tentang rencana itu. Zzzzzzz

Yang kelima, gue sama chabo berencana liburan ke Dufan/transstudio bandung. Gue harus mastiin kalo rencana yang ini mesti dilaksanakan. Walaupun pelaksanaannya abis gue selesai magang, pokoknya yang ini harus terlaksana tanpa terkecuali!!!!!! Harap baca yaaaa chabo :D

Yang Keenam, temen gue nung kan kampungnya di jogja, ini sih gue yang ngajak si chabo, si nung mau ngajak kita ke jogja. Tapi emang deh ya, ini nih, si chabo malah ikutan SP (semester pendek). Well, ga jadi ke yogya. T.T

Yang Ketujuh, gue sama chabo berencana untuk menyehatkan dan menguruskan badan dengan cara berenang selama liburan. Bokap gue untung markas polisinya punya 1 tempat berenang di daerah depok, jadi gue bisa gratisan berenang disana. Tapi mungkin, sahabat gue yang satu ini terlalu sibuk, jadi dipending dulu deh berenangnya. Zzzzzzzzzz

Nah itulah rencana liburan bermanfaat gue sama chabo, tapi yang namanya rencana yah hanyalah rencana. Belum satu pun yang terlaksana. Hehehehe. Waktu yang akan menjawabnya….eaeaea

Nah, selain rencana liburan sama chabo, kemarin gue sempet liburan juga sama saudara gue. Dari tempat kerjanya ada acara Family Gathering gitu, akhirnya dengan baik hati, mbak ika (sepupu gue) ngajak gue pergi. Ga nyangka, ternyata wajib pake jilbab jalan-jalannya. Emang sih, tempat kerjanya mbak ika sekolah islam gitu, yah akhirnya gue pun memakai jilbab. Cantik juga saya kalo pake jilbab. Weheheheheh *plak Sempet rafting juga. Heheheh

Gile, gara-gara nulis ini, sop emak gue angus. Gue lupa matiin. Siap-siap die aja nih gue. Bye. Doain gue selamet ya dari terkaman emak gue. Bye bye *hiksssss

padahal ini ceritanya masih panjang, tapi overload blogspotnya. jadi bersambung dulu ya -_-"

Sabtu, 09 April 2011

Theories Underlying Directed Technology Integration Strategies.

Objectives Learning Theories à Directed Integration Strategies

1. Behaviorist Theory : B. F Skinner (learning as stimulus response chains) Learning is an activity that occurs inside the mind and can be inferred only by observed behavior.Behavior are shaped by “contingencies of reinforcement” to shape desired responses: positive reinforcement (increases desired behaviors with rewards); negative reinforcement (increases desired behaviors by withholding rewards); punishment (decreases undesirable behaviors with aversive stimuli).

2. Information-Processing Theory: Atkinson and Shiffrin. The Main as Computer.

Learning is encoding information into human memory, similar to the way a computer stores information.

~ Sensory registers : receive information a person senses through receptors (i.e., eyes, ears, nose, mouth, and/or hands).

~Short Term Memory (STM) STM Holds new information for about 5 to 20 seconds. Unless it is processed or practiced in a way that causes it to transfer to Long-term Memory.

~LTM can hold information indefinitely, but for new information to be transferred to LTM, it must be linked in some way to prior knowledge already in LTM.

3. Cognitive-Behavior Theory: Robert Gagne. Providing Condition for Learning.Learning is shaped by providing optimal instructional conditions. Conditions include the nine event of instruction that differ according to the type of skills hierarchy approach that presents simple skills and builds to complex ones.

4. System Theory and Systematic Instructional Design. Managing the Complexity of Teaching. Learning is fostered by using a system of instruction based on behaviorist information processing and cognitive behaviorist theories. An instructional system is design by stating goals and objectives; doing task analysis to set a learning sequence; matching assessment and instruction to objectives; creating materials; and field testing and revising materials.

How Objectivist Learning Theories Lead to Directed Technology Integration Strategies

1. Behaviorist : ~ Learning Theories: Learning is infered from behavior, Stimulus-Response connections shape behavior. Reinforcement strengthens responses. Chains of behavior = skills.

~ Educational Implications : Instruction must provide the right stimuli and reinforcement to achieve desired learned responses.

~ Technology Implications : Computer programs can provide consistent, reliable stimuli and reinforcement on an individual basis.

2. Information-processing : ~Learning Theories : Learning is encoding information into memory. Encoding begins with attention. Application ensures tranfer into memory. Practice reinforces retention and aids recall.

~ Educational Implications : Instructional must gain attention, provide the right kinds of application, and provide sufficient practice to ensure encoding, retention, and recall.

~ Technology Implications : Computer applications have qualities to attract students’ attention and provide repetitive application and practice on an individual basis.

3. Cognitive-Behavioral : ~Learning Theories : Learning is shaped by a sequence of instructional events appropriate for the type of learning.

~ Education Implications : Intructional activities must provide events to support the type of learning; students must demonstrate they have learned prerequisite skills.

~ Technology Implications : Computers can give fast, accurate information on students’ skills levels and provide consistent sequences of activities to fulfill instructional events.

4. Systems Approaches : ~ Learning Theories : Learning is most efficient when supported by a well-designed system of instruction. A complete learning activities and assessments.

~ Educational Implication : Instruction must be structured and sequential, and students must be continually monitored as they progress through the instructional system.

~ Technology Implication : Computer applications can provide a sequence of information, practice, and assessments, and can give fast, accurate information on each student’s progress.

Implicatios for Technology Integration Strategies :

Choose directed technology integration strategies when :

Skills and content to be learned are clearly defined, concrete, and unambiguous, and a spesific behavioral response can indicate learning,

Students need individual tutoring/practice to learn and demonstrate prerequisite skills.

Students need to acquire skills as quickly and efficiently as possible.

theories underlying Inquiry-Based Technology Integration Strategies.

1. Social Activism Theory : John Dewey (Learning as Social Experience).John Dewey. An early proponent of racial equality and women’s suffarage, john dewey’s radical activism shaped his beliefs about education. Identified closely with the progressive education reform initiative popular in the first half of the 1990s, many of his principles of education were in direct opposition to those of that period. Dewey deplored standardization and believed that curriculum should arise from students’ interests. He also believed that curriculum topics should be integrated, rather than isolated, since teaching isolated topics prevented learners from grasping the whole of knowledge.

a. Learning is individual growth that comes about through social experiences.

b. Growth is fostered through hands-on activities connected to real-world issues and Problem.

c. School curriculum should arise from student’ interests and be taught as integrated topics, rather than as isolated skills.

2. Scaffolding Theory: Lev Vygotsky(Learning as a Cognitive Building Process).

a. Learning is cognitive development shaped by individual differences and the influence of culture.

b. Adults (experts) and childrens (novices)perceive the world differently. The difference between them is the zone of proximal development.

c. Adult support learning through scaffolding, or helping children build on what they already know.

3. Child Development Theory : Jean Piaget (Stages of Development).

a. Learning is cognitive growth through neurological and social maturation.

b. Children go through stages of cognitive development (sensorimotor, preoperational, concrete, and formal operations) by interacting with their enviroment.

c. When they confront unknowns, they experience disequilibrium; they respond with assimilation (fitting it into their views) or accomodation (changing their views).

Senin, 04 Oktober 2010

Sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan

Sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan telah berlangsung dari waktu yang lama sekali, banyak pendapat dan kejadian sejarah yang mendasari awal perkembangan Teknologi Pendidikan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan instruksional. Untuk itu penulis mencoba sedikit menguraikan kembali sekelumit hal yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan ( pengajaran dan intruksional ).
Sejarah perkembangan teknologi pendidikan menjadi sangat singkat jika dihitung bagaimana jabatan dan pola pikir tlah dibawa bersama sama untuk menciptakan bidang galian dari teknologi pendidikan . peserta didik dari teknologi pendidikan sepanjang tahun 1960 pada umumnya mengikuti salah satu dari dua jalur berikut yaitu pendekatan Audio Visual atau belajar terprogram yang masing masing telah dihubungkan dengan sejumlah kerangka konseptual, adopsi praktis dari kegitan mereka, pelatihan dan kepribadian mereka.

Bagaimana gerakan terbentuknya teknologi pendidikan dimulai oleh salah satu pakar yaitu Dr. James Finn, yang pada saat itu menjadi kepala devisi pendidikan audio visual (DAVI), salah stu tulisan Finn yang terkenal adalah tentang Teknologi dan Proses Pembelajaran. argument utamanya adalah bahwa dalam banyak bidang, masyarakat Amerika Utara telah diubah oleh teknologi dan teknologi itu tak bisa diacuhkan pengaruhnya terhadap pendidikan, cepat atau lambat.

Pada waktu itu dua kecendrungan utama yang dapat membedakan tetapi mereka mengalirkan pada arah kebalikan, yaitu : yang pertama adalah kecendrungan ke arah pembelajaran teknologi masa , seperti dngan mencotohkan keunggulan televisi. Dan yang kedua adalah kecendrungan ke arah individualisme.

Teknologi Pendidikan muncul sebagai bidang studi dan kategori jabatan baru pada tahun 1960, tetapi sebelum itu banyak peristiwa sejarah yan menajad dasar dari sebuah pondasi teknologi pendidikan secara keseluruhan. Seperti psejaran perkembangan Instruksional atau pengajaran. Disinni penulis akan menuliskan lebih lanjut mengenai sejarag perkembangan tersebut, menyangkut perkembangan Teknologi Instruksional, terdapat beberapa pendapat mengenai hal tersebut, mereka membaginya ke dalama beberapa priode, di antaranya :

a. Periode 1932 – 1959
Brown (1984) membahas penjelasan yang dikemukakan Seattler sekitar perkembangan teknologi instruksional. Seattler mengemukakan bahwa teknologi instruksional memiliki dua landasan filosofis dan teoritis yang sangat berbeda, yaitu; physical science dan yang kedua behavior sicence.

Seattler menjelaskan bahwa konsep ilmu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional biasanya berarti penggunaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi rekayasa, seperti projektor, tape recorder, televisi dan teaching mekanik untuk menyajikan sekolompok materi instruksional., cirinya adalah bahwa konsep ini memandang berbagai media sebagai pembantu untuk mengajar dan berkecendrungan untu lebih memperhatikan alat dan prosedur dari pada memperhatikan perbedaan individual siswa atau materi pelajaran.
Gagasan yang paling berpengaruh dan berakar pada konsep imu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional ialah memasukkan material (audio visual) dan mesin (proyektor atau gambar hidup. dan mesin (proyektor atau gambar hidup).

b. Periode 1960 – 1969.
Beberapa kejadian memberikan masukan terhadap prgeseran teoritis secara besar besaran berkenan dengan teknologi intruksional pada akhir tahun 1950 dan awal 1960an, terutama peritiwa peluncuran sputnik pada tahun 1957 yang mencengangkan dunia. Akibat dari itu, terutama di Amerika, sekolah dikritik karena kegagalannya mengjarkan science dan matematika dalam kapaitas yang cukup. Karena itu tekanan lebih di alamatkan kepada teknologi instruksional, akibatnya terdapat dua konstruk teoritis muncul secar bersamaan yang mempengaruhi lapangan teknologi instruksional. Pertama yaitu pengaruh yang kuat dari aliran behaviorisme terhadap semua pendekatan belajar dan yang kedua adalah pendekatan sistem sistem yang datang dari teknik mesin dan teknologi. Gerakan yang berbeda ini akhirnya melahirkan dan saling melengkapi yang disebut dengan Pengajaran Terprogram. Gerakan kaum behavioris melahirkan pegembangan tujuan behavioral, karena diperlukan perumusan tingkah laju lebih lanjut dalam merancang sebuah proses pembelajaran.

c. Periode 1970 – 1983.
Mendekati akhir tahun 1970, muncul kembali pendekatan kognitif dalam pembelajaran. Banyak ahli pikologi yang mengsulakan hal tersebut, salah satunya Wittrock.menurutnya penekatan kognitif berimplikasi bahwa belajar dan pengajaran secara ilmiah akan lebih produktif bila dipelajari sebagai sesuatu yang bersifat internal, yakni suatu proses kognitif berperantara dari pada sebagai produk langsung dari lingungan , orang atau fktor eksternal lainnya.

d. Periode 1983 – muthakir.
Pada masa ini berlangsung kekacau balauan akibat pertengan dari landasan teoritik teknologi instruksional. Perbedaan pendapat ini terutama dialamatkan kepada para perintis audio Visual. Seperti Salomon, yang menganggap audio visual itu sebagai agen informasi dan bukan sebagai stimulus yang langsung untuk respon tertentu. Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa media tidak lebih dari kendaraan yang menganku para ahli ke konfrensi pemecahan masalah dan memberi sumbangan terhadappemahaman para ahli tentang masalah tersebut.
Lebih lanjut dari itu sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan tidak hanya terbatas pada hal tersebut saja, kita tidak bisa begitu saja melepaskan kaitannya dengan sejarah perkembangan Teknologi Pengajaran. Beberapa para ahli menyebutnya demikian dan mereka menjelaskan perkembangan teknologi pembelajaran ke dalam beberapa masa sejarah, diantaranya :

A. Metode Kaum Sofi.
Perkembangan dari berbagai metoda pengajaran merupakan tanda lahirnya teknologi pengajaran yang dikenal saat ini. Beberapa pendidik pada masa lampau, yaitu golongan Sofi di Yunani, para ahli pendidikan memandang menduga kaum Sofi merupakan kaum teknologi pengajaran yang pertama. Mereka menyampaikan pelajaran dengan berbagai cara dan teknik . mula mula mereka menyampaikan bahan pelajaran yang telah disampaikan secara matang, kemudian mereka melanjutkan dengan perdebatan yang dilakukan dengan secara bebas, pada saat itulah proses kegiatan belajar itu berlangsung. Kemudian jika ada minat dari mayarakat untuk belajar, akan dibuat kontrak dan untuk kemudian menjadi sistem tutor.
Pandangan ajaran kaum Sofi didasarkan atas;
1. Bahwa manusia itu berkembang secara evolusi. Seorang dapat berkembang dengan teratur tahap demi tahap menuju kepada peradaban yang lebih tinggi. Melalui teknologilah permbeelajaran dapat diarahkan secara efektif.
2. Bahwa proses evaluasi itu berlagsung terus, terutama aspk-aspek moral dan hukum.
3. Sejarah dipandang sebagai gerak perkembangan yang bersifat evousi berkelanjutan.
4. Demokrasi dan persamaan sebagai sikap masyarakat merupakan kaidah umum.
5. Bahwa asas teori pengetahuan bersifat progresif, pragmatis, empiris dan behavioristik.
Gagasan kaum Sofi ini cukup banyak mempengaruhi kurikulum di Eropa, misalnya penggunaan retorika, dialektika, dan gramar sebagai materi utama dalam quadrivium dan trivium.
B. Metode Socrates
Bentuk pengajaran lebih ke dalam bentuk berfilsfat, metode yang dipakan disebut dengan Maieutik atau menguraikan, yng sekarang dikenal dengan nama metoda inkuiri. Pelaksanaanny berlangung dengan cara take and give of conversation. Dengan cara memberikan pertanyaan yang mengarah kepada suatu masalah tertentu. Pada dasarnya Socrates mengajarkan tentang mencari pengertian, yaitu suatu bentuk tetap dari sesuatu.

C. Metode Abelard.
Metode Abelard ini berlangsung pada masa pemerintahan Karel Agung di Eropa. Metoda yang di pakai bertujuan untuk membentuk kelmpok pro dan kontra terhadap suatu materi. Guru tidak memberikan jawaban final tetapi siswalah yang akan menyimpulka jawaban itu sendiri. Metoda ini biasa disebut dengan ‘ Sic et Non’ atau setuju atau tidak.

D. Metode Lancaster
Metoda Lancerter ini dalam bentuk sistem Monitoring yang merupakan bentuk pengajaran yang unik, meliputi pengorganisasian kelas, materi pelajaran sesuai dengan rencanannya yang meningkat dan dikelola secara ekonomis. Lancaster mempelajari konstruksi kelas kusus yang dapat mendayagunakan secara efektif penggunaan media pengajaran dan pengelompokan siswa. Dalam sistem pengajaran Lacaster, pemakaian media pengajaran masih sederhana. Seperti penggunaan pasir dalam melatih siswa menulis.
E. Metoda Pestalozi.
Pengamatan pada alam merupakan landasan utama dari proses daktiknya. Pengetahuan bermula dari adanya pengamatan , dan pengamatan menimbulkan pengertian, selanjutnya pengertian yang bari itu menimbulkan pengertian yang selanjutnya pengertiaan tersebut bergabung dengan yang lama untuk menjadi sebuah pengetahuan. Dan dapt dikatakan bahwa perintisan ke arah peendayagunaan perangkat keras ata hardware sebenarnya telah dimulai pada masa Pestazoli ini, seperti penciptaan papan aritmatik yang terbagi dalam kotak kotak yang di setiap kotaknya diberi garis-garis yang secara keseluruhan berjumlah 100 kotak kecil. Selain itu Pestalozi juga menciptakan stylabaries untuk melatih siswanya dalam mempelajri angka, bentuk, posisi dan warna disain.

F. Metoda Froebel.
Metode Froebel didasarkan kepada metodologi dan pandangan filsafafnya yang intinya mengatakan bahwa pendidkan masa kanak kanak merupakan hal paling penting untuk keseluruhan kehidupnnya. Karena itulah Froebel mendikrikan Kindergarten atau yang lebih dikenal dengan Taman Kanak – kanak. Metoda pengajaran Kindergasten dari Froebel meliputi kegiatan berikuti :

a. Bermain dan bernyanyi
b. Membentuk dengan melakukan kegiatan.
c. Grift dan Occupation.

G. Metoda Friedrich Herbart.
Praktek pendidikan Herbert terlihat adanya pengaruh Freobert terutama pada aspek pengembangan moral sebagai tujuan utama pendidikan. Metoda instruksionalnya didasarkan kepada ilmu jiwa yang sistematis. Dengan demikian siswa secara pikologis dibentuk oleh gagasan yang datang dari luar.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Leading to Learning (part 1)

Hello guys, how are you? *poke* LOL

today I wanna give you some experience from my lesson at the college; University State of Jakarta (UNJ).

Yesterday, my teachers (Mr.Kunto Imbar and Mrs.Dewi) taught me about the meaning of instructional design. And they gave us an assignment, to make summary about Defines Instructional Design.

And this is my review about that, check this out folks! But dont judge me, if this post almost wrong. We learn together J

oh yeah, thank you for Uncle F. Benny Crowe who translated my summary into perfect English, you’re great ‘om bule’!!! *big huges* :*

>>>>>MY ASSIGNMENT<<<<<<

WHAT DOES INSTRUCTIONAL DESIGN MEAN?

The term instructional design refers to the systematic and reflective process of translating principles of learning and instruction into plans for instructional materials, activities, information resources, and evaluation. An instructional designer is somewhat like an engineer. Both plan their work based upon principles that have been sussessful in the past-the engineer on the laws of physics, and the designer on basic principles of instruction and learning. Both try to design solutions that are not only fuctional but also attractive or appealing designer have established problem-solving procedures that they use to guide them in making decisions about their desings.

Perfection is neither a goal nor an option in design. It is attractive and easy to assume that with sufficient so phistication, designers will develop flawless designs that have no drawbacks.

Hmm, still confuse guys? So do I. To understand the term instructional design more clearly, we will review the meanings of the words instruction and design. Okay? Lets we try to read that!

WHAT IS INSTRUCTION?

Driscoll (2000) defines Instruction from similiar perspective: “the deliberate arrangement of learning conditions to promote the attaiment of some intended goal”. So we can reach the conclution that Instruction is the intentional arragement of experiences, leading to learners acquiring particular capabilities. These capabilities can vary qualitatively in form, from simple recall of knowledge to cognitve strategies that allow a learner to find new problems within a field of study.

Terms such as education, training and teaching are often used interchangeably with instruction. However, in this post we will make some distinctions may not be made in the same way among all individuals in the field of education, or even in the field of instructional design. However, we have found these definitions helpful in aying the framework for this post. This figure 1.1 illustrates te relationships among these term:

So, all instuction is part of education because all instruction consists of experiences leading to learning. But not all education is Intruction because many experiences that lead to learning are not specifically developed and implemented to ensure effective, efficient, and appealing experiences leading toward particular learning goals.

We generally use the term training to refer to those instructional experiences that are focused upon individuals acquiring very specific skills that they will normally apply almost immediately. Much instructional in business, military, and government settings can be termed training because the experiences are directed toward preparing learners with specific on-the-job skills. In addition, the instructional in certain special education classes is “training” because the learning experiences have been developed to provide students with life skills, such as counting change, which we anticipate they will use almost immediately.

Not all instruction can be considered training, however. Tarining is conducted using all of varieties of method and approach seen in any other form of education: Training is distinguished from other forms by immedicy of application.

As figure 1.1 shows, not all teaching is considered tobe instruction. There are occasions in an educational environment in which a teacher does not focus learning experiences toward any particular learning goal. On these occasions, teachers may provide many learning activities, and during these activities learning goals may emerge, often from the learners themselves as they encounter the activities.

In summary, this post focuses on the facilitation of lerning: Instruction. Here, we will consider instruction to be a subset of education. The term training will be considered a subset of education. The term training will be considered a subset of instruction. In some cases, teaching will be considered instruction, and in others it will fit the more general category of education but will concentrate on the design and development of activities that are directed toward identified learning goals.