RSS

Selasa, 02 November 2010

Genitnya Facebook Indonesia

KOMPAS.com - Harian New York Times pernah merilis sebuah grafik menarik. Isinya tentang peringkat negara pengguna Facebook terdaftar di dunia. Di grafik itu, sejumlah negara diperingkat berdasarkan jumlah warga pengguna Facebook di masing-masing negara. Anda pasti tahu peringkat Indonesia. Paling tidak, bisa membayangkan. Ingat aja besarnya jumlah Facebook lovers di negeri ini.

Indonesia dipatok pada peringkat ketiga setelah Inggris dan AS. Inggris, peringkat kedua disebut memiliki komunitas Facebook 24,1 juta orang. AS pada peringkat pertama dengan Facebook lovers sebanyak 118,7 juta orang. Indonesia, peringkat ketiga berada di atas sejumlah negara maju seperti Perancis, Italia, Kanada, dan Spanyol.

Ditaksir, registered users di Indonesia yang menggunakan Facebook berjumlah 22,7 juta orang. Saya asumsikan, mungkinkah jumlah ini adalah bagian dari mitos 30 hingga 40 juta kelas menengah Indonesia. Bagi yang senang statistik, informasi ini menarik buat bahan kajian.

Arti peringkat itu bermakna multi-tafsir. Indonesia menjadi negara terbesar ketiga multimedia user. Bisa juga, jutaan generasi mudanya ngabisin banyak waktunya dengan Facebook. Di kantor, di rumah, di warnet, mobile, pub, cafe, dll. Facebook benar-benar menjadi pandemi. Kata kawan saya, "I don't know whether you are lucky being the fourth most populous nation on earth or feel stressful because of that."

Karenanya, bagi yang sinis, peringkat ketiga adalah wajar. Net-populasi sebanding dengan bertambahnya pecinta multimedia. Wong, saban jam ribuan anak lahir. Enggak termasuk yang "dibuang" orang tuanya. Atau tak diakui ama pasangan "lebay bin jablay" yang hanya doyan enaknya doang. Populasi mereka tak tercatat, soalnya.

Bagi saya, ambil positifnya. Data itu menunjukkan jika Indonesia adalah potensial menjadi the world’s fastest growing mobile consumer markets. Toh, kita sudah dianggap bagian dari top 20 internet users di dunia. Makanya, trending topic di Twitter seringkali didominasi isu-isu atau sosok kontroversial asal indonesia. Dari Panasonic Gobel hingga Ariel Peterporn. Semua ngalahin Justin Bieber. Wow!

Yahoo Net-index Study yang dirilis tahun ini, menempatkan Indonesia sebagai yang terdepan dalam "online growth" di Asia Tenggara. Malah menurut Morgan Stanley, Indonesia menduduki peringkat 10 global dalam kategori "3g subscriber growth". Kedengerannya asyik, ya? Rasanya bangga juga sih.

Masalahnya, di sela rasa bangga itu juga, terselip kekhawatiran luar biasa. Pakem umum, di mana ada pertumbuhan pasti ada pergolakan. Di mana ada gula, di situ ada semut. Facebook yang berjamur juga memudahkan tumbuhnya kejahatan dan deviasi moral. Kita sudah menyaksikannya kini. Dan kita akan terus menyaksikan kasus-kasus kriminal terkait dengan penyalahgunaan multimedia. Semoga kita pun dapat menemukan antidot-nya.

Jangan Malu untuk Memulai "Nge-blog"

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG
Para blogger memanfaatkan warung angkringan di Jalan Langsat I, Jakarta Selatan, untuk kopi darat.

KOMPAS.com - Pada masa awal kelahirannya, blog atau situs pribadi dianggap sebelah mata, bahkan cenderung dilecehkan. Sampai sekarang pun sikap nyinyir terhadap bloger tidak pernah hilang. Disebutlah bloger itu narsis yang buang-buang waktu percuma. Persis lahirnya sebuah revolusi, kehadiran awalnya diragukan.

Sekarang, orang yang melek internet tetapi belum nge-blog, istilah merujuk aktivitas dalam membuat dan mengisi blog, dianggap tertinggal zaman. Blog sudah menjadi gaya hidup, mulai dari anak sekolah dasar, selebriti, sampai menteri. Bahkan, 94 dari 96 suratkabar cetak terbaik di Amerika Serikat memiliki blog. Hanya empat surat kabar saja yang "jadul" alias terseret zaman karena tidak memiliki blog.

Jelaslah, di belahan dunia sana blog sudah masuk salah satu kriteria penting sebagai penentu berkualitas tidaknya sebuah surat kabar. Beberapa surat kabar cetak di Indonesia sudah memiliki kesadaran lebih dini dengan membuat blog sebagai tempat curhat para wartawannya atau tempat mengekspos kegiatan keseharian surat kabar itu, yang tidak mungkin termuat dalam surat kabar.

Di Eropa atau Amerika, surat kabar online pun memiliki blog sendiri-sendiri, plus blog pribadi wartawannya yang bisa diklik di jajaran navigasi global pada tampilan surat kabar online tersebut. Ada "cerita di balik berita" yang lebih bebas terungkap dalam blog, yang kadang justru lebih menarik daripada peristiwa itu sendiri.

Ada forum dialog intens yang hangat antara wartawan dan para pembaca. Ada keakraban di sana. Seluruh wartawan, editor, dan pemilik surat kabar bisa disapa serta ditanya tentang berbagai hal. Wartawan yang menulis berita tidak lagi asal lempar tulisan setelah itu tutup telinga: "terserah tulisanku mau dibaca atau tidak, pokoknya masa bodoh".

Hubungan antara koran yang diwakili wartawan dan para pembacanya menjadi berjarak. Wartawan kerap dicap sebagai "orang pintar" yang duduk di menara gading, yang sulit dan tidak bisa disapa pembaca. Akan berbeda persoalannya jika sebuah surat kabar memiliki blog sendiri. Suasana lebih akrab bisa terjalin karena dipersatukan minat yang sama. Wartawan yang biasa menulis rubrik khusus, seperti otomotif, teknologi informasi, dan politik, memiliki "basis massa" pembaca yang luar biasa besar.

Sayang, selama ini aliran informasi hanya satu arah sifatnya. Tidak ada dialog interaktif untuk menangkap umpan balik (feedback) pembacanya, yang kemungkinan ada persoalan baru lainnya yang muncul dari hasil dialog interaktif itu untuk bahan tulisan berikutnya. Bukankah dalam dunia media online ada adagium bahwa berita adalah percakapan itu sendiri?

Wartawan memang manusia supersibuk yang tidak punya waktu membalas sapaan pembacanya di blog. Membalas sapaan pembaca di blog berarti buang-buang waktu sehingga waktu untuk menulis tersita. Tentu saja wartawan tidak harus memelototi blog tiap hari. Kalau tidak punya waktu, barangkali cukup seminggu sekali, sebulan dua kali, atau boleh juga sebulan sekali. Sekadar "say hello" saja kepada pembacanya.

Maka, berkumpulnya para blogger dari berbagai penjuru Tanah Air di Blitz Megaplex Jakarta, 27 Oktober lalu, menjadi penting. Selain menunjukkan keberadaan para blogger, ada semangat memperekat komunitas blogger. Meski belum pernah bertemu secara fisik dan hanya bertutur sapa di dunia maya lewat media maya, toh pertemuan itu menjadi "kopi darat" pertama yang terbesar. Beberapa wartawan peliput acara yang kemudian diklaim sebagai "Hari Blogger Nasional" itu adalah bloger, karena kesadaran mereka untuk berada dalam satu komunitas yang sama, yang sudah terbiasa saling menyapa dalam dunia maya.

Jumlah 130.000 blogger Indonesia belum apa-apa dibandingkan dengan penduduk Indonesia yang sudah menyundul angka 230 juta jiwa. Namun, melihat antusias orang yang terus membuat blog di seluruh dunia, jumlah itu rasanya terlalu kecil. Tengok Wordpress, salah satu situs penyedia blog terdepan saat ini, di mana setiap harinya mencatat 50.000 pembuat blog baru. Anda? Jangan malu untuk memulai!

Rabu, 13 Oktober 2010

Mahasiswa UGM Kembangkan Limbah Salak Pondoh Jadi Bioethanol Bagus Kurniawan - detikNews

Jakarta - Mahasiswa Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mampu mengembangkan limbah salah pondoh menjadi bioethanol. Bioethanol itu sudah dicoba untuk menyalakan sebuah kompor gas dan berhasil menyala dengan baik.

Kabupaten Sleman terutama di Kecamatan Turi dikenal sebagai sentra salah pondoh yang dikirimkan di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan diekspor hingga Cina, Malaysia dan Singapura. Namun diperkirakan sekitar 5 persen dari salah pondok yang dihasilkan, ada yang tidak laku dijual akibat busuk.

Selama ini berton-ton salak pondok yang busuk oleh para petani hanya dibuang percuma atau menjadi sampah.

Adhita Sri Prabakusuma, mahasiswa jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM bersama anggota tim peneliti dan warga Dusun Ledoknongko, Desa Bangunkerto, Turi berhasil memanfaatkan limbah salah pondoh menjadi barang yang berguna yaitu bioethanol.

Bioethanol ini tidak hanya untuk bahan bakar kompor, tapi juga bisa
dipasarkan ke apotik atau laboratorium. Saat ini harga jualnya bisa mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per liter.

"Kami ingin memberikan pengetahuan pada petani salak, bahwa limbah salak itu masih punya nilai ekonomis, tidak dibuang percuma jadi sampah. Tapi bisa dibuat bioethanol dengan nilai jual tinggi," kata Praba kepada wartawan, Selasa (12/10/2010).

Menurut dia, sekitar 10 kilogram salak bisa menghasilkan 1 liter bioethanol. Namun sebelumnya limbah salak tersebut difermentasikan dahulu selama satu minggu dengan menambah ragi dan urea.

Caranya kata Praba, cairan fermentasi salak pondok terlebih dulu dipanaskan dengan suhu 70 derajat pada tabung destilasi atau menggunakan alat destilator. Hasil pemanasan ini bisa nantinya menghasilkan bioethanol. Cairan bioethanol kemudian dimasukkan dalam botol plastik dengan selang pipa dan ditutup rapat.

"Cairan kemudian dialirkan ke kompor gas dengan cara disuntik," kata Praba yang pernah diundang mempresentasikan hasil penelitiannya dalam International Agriculture Symposium di Malaysia beberapa waktu yang lalu.

Menurut dia, limbah salak yang tidak layak jual di Dusun Ledoknongko setiap bulan saat musim panen bisa mencapai 1-3 ton. Salak-salak busuk yang terbuang percuma itu bisa menjadi bioethanol. Sisa hasil destilasi berupa ampas, bisa dibuat pupuk organik untuk pertanian.

Dia kersama kelompok tani salak pondok "Si Cantik" Dusun Ledoknongko terus
mensosialisasikan pemanfaatan limbah salak pondoh tersebut. Meski diakui masih ada beberapa hambatan dari kalangan petani sendiri.

"Kami bersama Pak Purwanto Ismaya ketua kelompok terus mensosialisaikan
teknologi baru, meski agak sulit karena masih dinilai kurang ekonomis. Kami ingin agar limbah salak ini tidak dianggap sebagai sampah saja, tapi sebagai hal bermanfaat dan potensial untuk sumber penghasilan tambahan," katanya.

Senin, 04 Oktober 2010

Sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan

Sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan telah berlangsung dari waktu yang lama sekali, banyak pendapat dan kejadian sejarah yang mendasari awal perkembangan Teknologi Pendidikan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan instruksional. Untuk itu penulis mencoba sedikit menguraikan kembali sekelumit hal yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan ( pengajaran dan intruksional ).
Sejarah perkembangan teknologi pendidikan menjadi sangat singkat jika dihitung bagaimana jabatan dan pola pikir tlah dibawa bersama sama untuk menciptakan bidang galian dari teknologi pendidikan . peserta didik dari teknologi pendidikan sepanjang tahun 1960 pada umumnya mengikuti salah satu dari dua jalur berikut yaitu pendekatan Audio Visual atau belajar terprogram yang masing masing telah dihubungkan dengan sejumlah kerangka konseptual, adopsi praktis dari kegitan mereka, pelatihan dan kepribadian mereka.

Bagaimana gerakan terbentuknya teknologi pendidikan dimulai oleh salah satu pakar yaitu Dr. James Finn, yang pada saat itu menjadi kepala devisi pendidikan audio visual (DAVI), salah stu tulisan Finn yang terkenal adalah tentang Teknologi dan Proses Pembelajaran. argument utamanya adalah bahwa dalam banyak bidang, masyarakat Amerika Utara telah diubah oleh teknologi dan teknologi itu tak bisa diacuhkan pengaruhnya terhadap pendidikan, cepat atau lambat.

Pada waktu itu dua kecendrungan utama yang dapat membedakan tetapi mereka mengalirkan pada arah kebalikan, yaitu : yang pertama adalah kecendrungan ke arah pembelajaran teknologi masa , seperti dngan mencotohkan keunggulan televisi. Dan yang kedua adalah kecendrungan ke arah individualisme.

Teknologi Pendidikan muncul sebagai bidang studi dan kategori jabatan baru pada tahun 1960, tetapi sebelum itu banyak peristiwa sejarah yan menajad dasar dari sebuah pondasi teknologi pendidikan secara keseluruhan. Seperti psejaran perkembangan Instruksional atau pengajaran. Disinni penulis akan menuliskan lebih lanjut mengenai sejarag perkembangan tersebut, menyangkut perkembangan Teknologi Instruksional, terdapat beberapa pendapat mengenai hal tersebut, mereka membaginya ke dalama beberapa priode, di antaranya :

a. Periode 1932 – 1959
Brown (1984) membahas penjelasan yang dikemukakan Seattler sekitar perkembangan teknologi instruksional. Seattler mengemukakan bahwa teknologi instruksional memiliki dua landasan filosofis dan teoritis yang sangat berbeda, yaitu; physical science dan yang kedua behavior sicence.

Seattler menjelaskan bahwa konsep ilmu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional biasanya berarti penggunaan ilmu pengetahuan alam dan teknologi rekayasa, seperti projektor, tape recorder, televisi dan teaching mekanik untuk menyajikan sekolompok materi instruksional., cirinya adalah bahwa konsep ini memandang berbagai media sebagai pembantu untuk mengajar dan berkecendrungan untu lebih memperhatikan alat dan prosedur dari pada memperhatikan perbedaan individual siswa atau materi pelajaran.
Gagasan yang paling berpengaruh dan berakar pada konsep imu pengetahuan alam tentang teknologi instruksional ialah memasukkan material (audio visual) dan mesin (proyektor atau gambar hidup. dan mesin (proyektor atau gambar hidup).

b. Periode 1960 – 1969.
Beberapa kejadian memberikan masukan terhadap prgeseran teoritis secara besar besaran berkenan dengan teknologi intruksional pada akhir tahun 1950 dan awal 1960an, terutama peritiwa peluncuran sputnik pada tahun 1957 yang mencengangkan dunia. Akibat dari itu, terutama di Amerika, sekolah dikritik karena kegagalannya mengjarkan science dan matematika dalam kapaitas yang cukup. Karena itu tekanan lebih di alamatkan kepada teknologi instruksional, akibatnya terdapat dua konstruk teoritis muncul secar bersamaan yang mempengaruhi lapangan teknologi instruksional. Pertama yaitu pengaruh yang kuat dari aliran behaviorisme terhadap semua pendekatan belajar dan yang kedua adalah pendekatan sistem sistem yang datang dari teknik mesin dan teknologi. Gerakan yang berbeda ini akhirnya melahirkan dan saling melengkapi yang disebut dengan Pengajaran Terprogram. Gerakan kaum behavioris melahirkan pegembangan tujuan behavioral, karena diperlukan perumusan tingkah laju lebih lanjut dalam merancang sebuah proses pembelajaran.

c. Periode 1970 – 1983.
Mendekati akhir tahun 1970, muncul kembali pendekatan kognitif dalam pembelajaran. Banyak ahli pikologi yang mengsulakan hal tersebut, salah satunya Wittrock.menurutnya penekatan kognitif berimplikasi bahwa belajar dan pengajaran secara ilmiah akan lebih produktif bila dipelajari sebagai sesuatu yang bersifat internal, yakni suatu proses kognitif berperantara dari pada sebagai produk langsung dari lingungan , orang atau fktor eksternal lainnya.

d. Periode 1983 – muthakir.
Pada masa ini berlangsung kekacau balauan akibat pertengan dari landasan teoritik teknologi instruksional. Perbedaan pendapat ini terutama dialamatkan kepada para perintis audio Visual. Seperti Salomon, yang menganggap audio visual itu sebagai agen informasi dan bukan sebagai stimulus yang langsung untuk respon tertentu. Lebih lanjut mereka berpendapat bahwa media tidak lebih dari kendaraan yang menganku para ahli ke konfrensi pemecahan masalah dan memberi sumbangan terhadappemahaman para ahli tentang masalah tersebut.
Lebih lanjut dari itu sejarah perkembangan Teknologi Pendidikan tidak hanya terbatas pada hal tersebut saja, kita tidak bisa begitu saja melepaskan kaitannya dengan sejarah perkembangan Teknologi Pengajaran. Beberapa para ahli menyebutnya demikian dan mereka menjelaskan perkembangan teknologi pembelajaran ke dalam beberapa masa sejarah, diantaranya :

A. Metode Kaum Sofi.
Perkembangan dari berbagai metoda pengajaran merupakan tanda lahirnya teknologi pengajaran yang dikenal saat ini. Beberapa pendidik pada masa lampau, yaitu golongan Sofi di Yunani, para ahli pendidikan memandang menduga kaum Sofi merupakan kaum teknologi pengajaran yang pertama. Mereka menyampaikan pelajaran dengan berbagai cara dan teknik . mula mula mereka menyampaikan bahan pelajaran yang telah disampaikan secara matang, kemudian mereka melanjutkan dengan perdebatan yang dilakukan dengan secara bebas, pada saat itulah proses kegiatan belajar itu berlangsung. Kemudian jika ada minat dari mayarakat untuk belajar, akan dibuat kontrak dan untuk kemudian menjadi sistem tutor.
Pandangan ajaran kaum Sofi didasarkan atas;
1. Bahwa manusia itu berkembang secara evolusi. Seorang dapat berkembang dengan teratur tahap demi tahap menuju kepada peradaban yang lebih tinggi. Melalui teknologilah permbeelajaran dapat diarahkan secara efektif.
2. Bahwa proses evaluasi itu berlagsung terus, terutama aspk-aspek moral dan hukum.
3. Sejarah dipandang sebagai gerak perkembangan yang bersifat evousi berkelanjutan.
4. Demokrasi dan persamaan sebagai sikap masyarakat merupakan kaidah umum.
5. Bahwa asas teori pengetahuan bersifat progresif, pragmatis, empiris dan behavioristik.
Gagasan kaum Sofi ini cukup banyak mempengaruhi kurikulum di Eropa, misalnya penggunaan retorika, dialektika, dan gramar sebagai materi utama dalam quadrivium dan trivium.
B. Metode Socrates
Bentuk pengajaran lebih ke dalam bentuk berfilsfat, metode yang dipakan disebut dengan Maieutik atau menguraikan, yng sekarang dikenal dengan nama metoda inkuiri. Pelaksanaanny berlangung dengan cara take and give of conversation. Dengan cara memberikan pertanyaan yang mengarah kepada suatu masalah tertentu. Pada dasarnya Socrates mengajarkan tentang mencari pengertian, yaitu suatu bentuk tetap dari sesuatu.

C. Metode Abelard.
Metode Abelard ini berlangsung pada masa pemerintahan Karel Agung di Eropa. Metoda yang di pakai bertujuan untuk membentuk kelmpok pro dan kontra terhadap suatu materi. Guru tidak memberikan jawaban final tetapi siswalah yang akan menyimpulka jawaban itu sendiri. Metoda ini biasa disebut dengan ‘ Sic et Non’ atau setuju atau tidak.

D. Metode Lancaster
Metoda Lancerter ini dalam bentuk sistem Monitoring yang merupakan bentuk pengajaran yang unik, meliputi pengorganisasian kelas, materi pelajaran sesuai dengan rencanannya yang meningkat dan dikelola secara ekonomis. Lancaster mempelajari konstruksi kelas kusus yang dapat mendayagunakan secara efektif penggunaan media pengajaran dan pengelompokan siswa. Dalam sistem pengajaran Lacaster, pemakaian media pengajaran masih sederhana. Seperti penggunaan pasir dalam melatih siswa menulis.
E. Metoda Pestalozi.
Pengamatan pada alam merupakan landasan utama dari proses daktiknya. Pengetahuan bermula dari adanya pengamatan , dan pengamatan menimbulkan pengertian, selanjutnya pengertian yang bari itu menimbulkan pengertian yang selanjutnya pengertiaan tersebut bergabung dengan yang lama untuk menjadi sebuah pengetahuan. Dan dapt dikatakan bahwa perintisan ke arah peendayagunaan perangkat keras ata hardware sebenarnya telah dimulai pada masa Pestazoli ini, seperti penciptaan papan aritmatik yang terbagi dalam kotak kotak yang di setiap kotaknya diberi garis-garis yang secara keseluruhan berjumlah 100 kotak kecil. Selain itu Pestalozi juga menciptakan stylabaries untuk melatih siswanya dalam mempelajri angka, bentuk, posisi dan warna disain.

F. Metoda Froebel.
Metode Froebel didasarkan kepada metodologi dan pandangan filsafafnya yang intinya mengatakan bahwa pendidkan masa kanak kanak merupakan hal paling penting untuk keseluruhan kehidupnnya. Karena itulah Froebel mendikrikan Kindergarten atau yang lebih dikenal dengan Taman Kanak – kanak. Metoda pengajaran Kindergasten dari Froebel meliputi kegiatan berikuti :

a. Bermain dan bernyanyi
b. Membentuk dengan melakukan kegiatan.
c. Grift dan Occupation.

G. Metoda Friedrich Herbart.
Praktek pendidikan Herbert terlihat adanya pengaruh Freobert terutama pada aspek pengembangan moral sebagai tujuan utama pendidikan. Metoda instruksionalnya didasarkan kepada ilmu jiwa yang sistematis. Dengan demikian siswa secara pikologis dibentuk oleh gagasan yang datang dari luar.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Leading to Learning (part 1)

Hello guys, how are you? *poke* LOL

today I wanna give you some experience from my lesson at the college; University State of Jakarta (UNJ).

Yesterday, my teachers (Mr.Kunto Imbar and Mrs.Dewi) taught me about the meaning of instructional design. And they gave us an assignment, to make summary about Defines Instructional Design.

And this is my review about that, check this out folks! But dont judge me, if this post almost wrong. We learn together J

oh yeah, thank you for Uncle F. Benny Crowe who translated my summary into perfect English, you’re great ‘om bule’!!! *big huges* :*

>>>>>MY ASSIGNMENT<<<<<<

WHAT DOES INSTRUCTIONAL DESIGN MEAN?

The term instructional design refers to the systematic and reflective process of translating principles of learning and instruction into plans for instructional materials, activities, information resources, and evaluation. An instructional designer is somewhat like an engineer. Both plan their work based upon principles that have been sussessful in the past-the engineer on the laws of physics, and the designer on basic principles of instruction and learning. Both try to design solutions that are not only fuctional but also attractive or appealing designer have established problem-solving procedures that they use to guide them in making decisions about their desings.

Perfection is neither a goal nor an option in design. It is attractive and easy to assume that with sufficient so phistication, designers will develop flawless designs that have no drawbacks.

Hmm, still confuse guys? So do I. To understand the term instructional design more clearly, we will review the meanings of the words instruction and design. Okay? Lets we try to read that!

WHAT IS INSTRUCTION?

Driscoll (2000) defines Instruction from similiar perspective: “the deliberate arrangement of learning conditions to promote the attaiment of some intended goal”. So we can reach the conclution that Instruction is the intentional arragement of experiences, leading to learners acquiring particular capabilities. These capabilities can vary qualitatively in form, from simple recall of knowledge to cognitve strategies that allow a learner to find new problems within a field of study.

Terms such as education, training and teaching are often used interchangeably with instruction. However, in this post we will make some distinctions may not be made in the same way among all individuals in the field of education, or even in the field of instructional design. However, we have found these definitions helpful in aying the framework for this post. This figure 1.1 illustrates te relationships among these term:

So, all instuction is part of education because all instruction consists of experiences leading to learning. But not all education is Intruction because many experiences that lead to learning are not specifically developed and implemented to ensure effective, efficient, and appealing experiences leading toward particular learning goals.

We generally use the term training to refer to those instructional experiences that are focused upon individuals acquiring very specific skills that they will normally apply almost immediately. Much instructional in business, military, and government settings can be termed training because the experiences are directed toward preparing learners with specific on-the-job skills. In addition, the instructional in certain special education classes is “training” because the learning experiences have been developed to provide students with life skills, such as counting change, which we anticipate they will use almost immediately.

Not all instruction can be considered training, however. Tarining is conducted using all of varieties of method and approach seen in any other form of education: Training is distinguished from other forms by immedicy of application.

As figure 1.1 shows, not all teaching is considered tobe instruction. There are occasions in an educational environment in which a teacher does not focus learning experiences toward any particular learning goal. On these occasions, teachers may provide many learning activities, and during these activities learning goals may emerge, often from the learners themselves as they encounter the activities.

In summary, this post focuses on the facilitation of lerning: Instruction. Here, we will consider instruction to be a subset of education. The term training will be considered a subset of education. The term training will be considered a subset of instruction. In some cases, teaching will be considered instruction, and in others it will fit the more general category of education but will concentrate on the design and development of activities that are directed toward identified learning goals.