RSS

Selasa, 21 September 2010

“Conceptions of Curriculum”

A short pdf document (just over one page) on “What is Curriculum” can be found on the website of the Postgraduate Medical Education and Training Board (PMETB) in London. It begins by noting:

As with most things in education, there is no agreed definition of ‘curriculum’, although it is generally agreed that ‘curriculum’ is not the same as ‘syllabus’. A syllabus is a statement of topics to be studied in the course. A ‘curriculum’ equally is not just a statement of intended outcomes, products, or competencies.

It proceeds by noting that “Curriculum is much more than either of these. Theorists concern themselves with different types of curriculum,” including “the curriculum on paper,” the “curriculum in action,” the “curriculum learners experience,” and the “hidden curriculum.”

As I noted in an earlier post, commenting on Glatthorn’s differentiations,

It is crucially important for educators and education researchers and scholars to be aware of these differences. Glatthorn slips up, however, when he refers to these as “types of curriculum.” These are no more different “types” of curriculum than an automobile that consumes fuel and an automobile with doors and windows are different “types” of automobiles. Curriculum is a reality that includes all of the different aspects Glatthorn differentiates–those are not different “types” of curriculum.

The PMETB statement illustrates another matter of concern that I have observed frequently, however. Their statement concludes with a crisp definition, introduced as follows:

Amid this plethora of views, every piece of work in this field must begin with its own stated definition. So for the PMETB, the curriculum is: …

The difficulty this suggests, for Curriculum Theory, is the possible implication that curriculum exists only as whatever we might be referring to as “curriculum.” In that case, it makes perfect sense for a group like PMETB simply to stipulate that “for our purposes, curriculum is x.”

For some practical purposes, that may be completely adequate. But for the sake of understanding curriculum as it actually is, however (which is at least a good part of the work of Curriculum Theory), that is not good enough. For purposes of understanding, no merely stipulative definition will suffice; what we need, rather, are explanatory accounts of curriculum, in its own actuality, and not just for some specific purposes of some particular projects.

Again, though, that doesn’t mean that stipulative definitions have no place–only that they must be kept in their proper places, as stipulated usage for particular purposes, not pretending to suffice for a more general understanding of what curriculum, in actuality, actually is.

Consider this stipulated usage, as explained on page 14 of William H. Schmidt: Why Schools Matter: A Cross-National Comparison of Curriculum and Learning. (San Francisco: Jossey-Bass/A Wiley, 2001):

For the purposes of our investigations we conceive of curriculum as a sequence of opportunities to learn specific disciplinary content, in our case in science and mathematics. …

The perspective on curriculum used for our investigations here is not meant to exclude or diminish other conceptions of curriculum. Indeed, there is a “bewildering” array of definitions for curriculum.* …

In short, any investigation that focuses on curriculum focuses only on certain aspects and conceptions of this multifaceted centerpiece of schooling. We have chosen a formal approach to curriculum as learning opportunities focused around specific topics in school mathematics and science because this is appropriate to our investigation of actual learning as achievement change for science and mathematics. [*footnotes omitted - JAW]

Schmidt is carefully not saying “We have decided to define curriculum as being this.” Instead, he’s saying “While we understand that curriculum is more than this, this is how we are conceptualizing what it is we’re looking at in these particular investigations.”

The difference might seem subtle, but it is all-important for Curriculum Theory, whose work it is to pursue more extensive understanding of curriculum, as fully as we can, toward curriculum’s own full manifold actuality.

© 2007 James Anthony Whitson. Permission to use this material is granted subject to the condition that the source is cited, including the information in the following citations (1 for APA style [5th]; 2 for Chicago style A [15th]):

  1. Whitson, J. A. (2007). “Conceptions of Curriculum”. Retrieved Month date, 20xx from http://curricublog.org/2007/01/25/conceptions-of-curriculum/.
  2. Whitson, James Anthony. ““Conceptions of Curriculum”.” (2007), http://curricublog.org/2007/01/25/conceptions-of-curriculum/ (accessed Month date, 20xx).

Culture Shock

haloo, how are you guys? :D

hmm, udah lama ga update blog, oh ya mau share sedikit nih tentang masa-masa transformasi gue menjadi mahasiswi di UNJ 2010 -_-

pertama, gue kira itu yang namanya kuliah enak, maksudnya enak; bebas,semaunya,ga pake seragam,aturannya dikit. itulah kesan pertama gue mengenai kuliah.
tapi...

setelah melakukannya, gue berkeyakinan kalo kuliah itu butuh tanggung jawab yang besar. yap, Tanggung Jawab.

diluar dari culture shock gue itu, gue juga mendapatkan pengalaman baru, teman baru dan gebetan baru (loh?)

pengalaman yang seru itu pas MPA, sejenis OSPEK juga. pas lomba yel-yel, jurusan gue Juara I loh.
oh ya, sekedar info, gue kuliah di program studi Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan UNJ.

teman baru? hahaha banyak banget, mulai dari afrika sampe australia :D
temen yang paling deket tuh si Uchi sama Fany (buset nih orang dua pada sebleng juga, bisa diajak gila)

gebetan baru? -___- haha gak ada, udah ilfil duluan. HAH!

Pengertian Sistem

Pengertian Sistem Menurut Para Ahli
Istilah sistem merupakan istilah dari bahasa yunani “system” yang artinya adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan bersama.
Pengertian sistem menurut sejumlah para ahli :

1. L. James Havery
Menurutnya sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk berfungsi sebagai suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.

2. John Mc Manama
Menurutnya sistem adalah sebuah struktur konseptual yang tersusun dari fungsi-fungsi yang saling berhubungan yang bekerja sebagai suatu kesatuan organik untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan secara efektif dan efesien.

3. C.W. Churchman.
Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang dikoordinasikan untuk melaksanakan seperangkat tujuan.

4. J.C. Hinggins
Menurutnya sistem adalah seperangkat bagian-bagian yang saling berhubungan.

5. Edgar F Huse dan James L. Bowdict
Menurutnya sistem adalah suatu seri atau rangkaian bagian-bagian yang saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.

sumber : http://www.google.co.id/search?q="pengertian+sistem"

Share Tugas Kuliah Tentang Education Intructional

Tes Penguasaan

  1. Apakah yang dimaksud dengan Teknologi dan berikan salah satu contoh manfaat Teknologi bagi kehidupan!
  2. Apakah yang dimaksud dengan “Hard Technology”, mengapa dikatakan dapat meningkatkan akses, berikan contohnya!
  3. Apakah yang dimaksud dengan “Soft Technology”, mengapa dikatakan dapat meningkatkan kualitas, berikan contohnya!

Jawab :

  1. Teknologi adalah suatu rangkaian sistematis yang merupakan hasil aplikasi dari ilmu pengetahuan, termasuk didalamnya cara pandang dan media yang bertujuan untuk menolong manusia dalam menyelesaikan masalahnya.

Manfaat Teknologi:

a) Bidang Informasi : Penggunaan telepon genggam yang sudah menjadi kebutuhan, bukan barang mewah lagi karena kegunaanya itu. Selain itu, teknologi komputer dan internet, sudah menjadi salah satu kebutuhan juga yang dapat meberikan informasi.

b) Bidang Pendidikan : adanya Software-software khusus yang dipakai didalam pendidikan untuk mempermudah proses belajar mengajar.

  1. Hard Technology merupakan istilah untuk teknologi yang berwujud komponen-komponen dalam bentuk fisik/real.

Hard Technology dapat meningkatkan akses karena teknologi yang semakin berkembang luas menandakan teknologi bidang komunikasi dan informasi juga semakin berkembang, yang menyebabnkan meningkatnya akses antara manusia dan tidak terbatas oleh ruang dan waktu, karena sifat penyebarannya fleksibel (dapat diakses dimanapun dan kapanpun).

Contoh :

a) Penyebaran informasi perkuliahan melalui SMS dan situs jejaring sosial.

b) Pemanfaatan mailing list dan chatting sebagai sarana pembelajaran antara mahasiswa dan dosen diluar jam perkuliahan yang dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.

  1. Soft Technology merupakan ide, cara pandang, gagasan, cara berpikir dan kemampuan dalam memecahkan masalah dengan pemanfaatan peran teknologi keras.

Soft technology dapat meningkatkan kualitas karena soft technology menggabungkan beberapa gagasan atau mendalami masalah sehingga menjadi spesifik dan mencari solusi dari permasalahan tersebut, sehingga adanya perkembangan sistem yang lebih baik lagi.

Contoh :

a) Training pegawai baru maupun pegawai pindahan dari salah satu departemen dalam suatu perusahaan.

b) Perubahan dari metode konvensional menjadi metode belajar PAIKEM.

Jumat, 17 September 2010

Cuplikan Tugas artikel PTKI TP UNJ

Internet dalam Pendidikan, Kenapa Tidak?

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang di ASEAN yang memiliki mutu pendidikan rendah, walaupun masih dibatas kewajaran dari kata ‘rendah’, namun akankah kita hanya duduk terdiam melihat mutu pendidikan negara kita yang makin lama, makin menurun.

Di zaman modern seperti sekarang ini, cara komunikasi Pendidikan tidak hanya terpaut oleh pengajar; pelajar hanya duduk diam sambil mendengarkan Pengajar memberi materi, sekarang, banyak permehati pendidikan/pengajar telah menerapkan sistem/metode “Atractive Active Learning”; dimana para pengajar memberi kesempatan bagi pelajar untuk aktif didalam kegiatan belajar mengajar (KBM).

Dalam metode ini, pengajar lebih memberi materi kepada Pelajar secara garis besarnya saja, selanjutkan pengajar meminta para pelajar mengambangkannya, biasanya pelajar diminta membuat kelompok agar komunikasi antar pelajar bisa semakin meluas dan melebur jadi satu ide.

Di zaman modern ini pula, Teknologi Komunikasi dan Informasi sangat diperlukan didalam dunia pendidikan, banyak sekolah-sekolah atau tempat pengajaran di kota besar menggunakan Teknologi ini dalam proses pembelajarannya. Para pengajar di kota metropolis maupun eopolis sudah menerapkan metode pembelajaran dengan menggunakan berbagai media Teknologi Komunikasi dan Informasi (TKI).

Dalam pengembangannya, ada beberapa perubahan yang terjadi dalam proses pembelajaran. Terdapat tiga perubahan proses pembelajaran; Pertama, adanya perubahan dari Pelatihan ke Penampilan, maksudnya Penampilan disini adalah gaya belajarnya, yang biasa cenderung “teacher always speak up”, siswa juga diberi kesempatan untuk berbicara tentang pembahasan materi, biasanya pengajar memberikan satu siswa untuk menjelaskan satu bab kepada siswa lain. Kedua, Perubahan dari Ruang Kelas ke Dimana dan Kapan pun. Terakhir, perubahan dari kertas ke media digital, misalkan dalam bentuk presentasi tugas yang menggunakan software PC (Personal Computer) Microsoft Power Point. Semua perubahan ini terjadi akibat adanya kecenderungan pelajar yang ingin lebih maju tanpa adanya istilah ‘GapTek’ (Gagap Teknologi) di lingkungannya.

Teknologi Komunikasi dan Informasi telah mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional. Hal ini ditandai dengan adanya Interaksi tatap muka antara Pengajar dengan siswa baik di kelas maupun di luar kelas.

Komunikasi antara pengajar dan pelajar juga sangatlah penting, apalagi jika adanya media komunikasinya, media komunikasi ini bisa disebut juga media pendidikan. Media pendidikan bisa menggunakan Telepon,Komputer,Internet,E-mail dsb. Jadi bisa dikatakan interaksi Pengajar dan Pelajar tidak hanya melalui tatap muka.

Seperti disebutkan pada paragraf sebelumnya, Internet termasuk salah satu media pendidikan. Selain fleksibel, Internet juga mudah dipelajari, tak sulit menemukan suatu dinamika dalam pembelajaran yang menggunakan Internet. Di abad 20-21 ini, terdapat suatu fenemona baru, atau bisa dikatakan terobosan baru dunia pendidikan, yaitu adanya ‘Cyber Teaching’; Pembelajaran di dunia maya, sekarang kita lebih mengenalnya dengan istilah ‘e-Learning’. Pada kasus ini, para pengajar lebih berada dalam posisi fasilitator. Dengan adanya e-Learning, siswa dapat belajar sesuai dengan kondisi kemampuan individualnya, jika ada siswa yang cepat menyerap materi melalui metode e-Learning, ada juga yang menyerap atau sekedar memahami materi dengan membutuhkan waktu yang lama. Siswa yang lambat, bisa terbantu dengan adanya e-Learning karena fungsinya yang fleksibel, setiap waktu dia dapat belajar dengan berulang-ulang.

Para teknolog dan pembuat kurikulum juga mengembangkan kurikulum dengan sedemikian rupa dalam bentuk yang lebih fleksibel, sesuai kondisi anak

Namun, diantara keunggulan internet, ada pula kelemahannya didalam pembelajaran. Pertama, pelajar lebih cenderung bergairah dengan internet itu sendiri dibandingkan dengan materi yang dipelajari. Mereka cenderung asik dengan daya tarik teknologi internet yang mungkin jauh lebih menarik dan tidak membosankan, dibandingkan dengan membaca materi yang diberikan oleh pengajar yang agak monoton (kebanyakan para pengajar didunia e-Learning masih belum memaksimalkan fasilitas-fasilitas yang telah disediakan owner untuk mempercantik tampilan webnya). Kedua, pembelajaran menggunakan internet dapat menciptakan masalah sosial dalam proses belajar mengajar. Misalnya, para pelajar jadi lebih tertarik dengan kecanggihan teknologi yang mereka pakai didalam dunia pembelajarannya dibandingkan dengan melalukan kegiatan luar ruangan (outdoor) yang bisa menimbulkan interaksi sosial dalam lingkungannya, baik dengan teman sebaya maupun dengan orang yang lebih tua.